JAKARTA – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) langsung diborong investor pada awal sesi I perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026. Pada pukul 09.10 WIB, saham GOTO melonjak 10,34% ke level Rp 32. Transaksi mencapai 9,69 miliar saham dengan nilai tembus Rp 295 miliar.
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, saham emiten teknologi ini mencatat nilai beli bersih (net buy) sebesar Rp 178 miliar dengan harga rata-rata Rp 30. Terpantau, antrean beli membludak di harga Rp 29, Rp 30, dan Rp 31.
Nilai buku GOTO saat ini tercatat Rp 27,2 per saham. Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis, menyatakan investor tidak perlu panik meskipun saham GOTO diperdagangkan di bawah Rp 50. Menurutnya, peluang pergerakan harga di bawah Rp 50 telah diantisipasi pasar sejak rencana perubahan batas harga diumumkan.
Abdul Azis menjelaskan bahwa transaksi saham GOTO di pasar negosiasi pada harga di bawah Rp 50 sebelumnya dapat menjadi referensi pembentukan harga di pasar reguler. “Yang sedang terjadi adalah proses price discovery. Pasar mencari titik keseimbangan baru untuk saham GOTO dengan mempertemukan harga yang diinginkan penjual dan pembeli,” ujarnya.
Ia memperkirakan volatilitas masih akan terjadi selama proses pembentukan harga. Namun, setelah tekanan jual mereda, perhatian pasar berpotensi kembali bergeser ke fundamental perusahaan. Hal ini sejalan dengan perbaikan kinerja GOTO sepanjang 2026.
Perseroan membukukan laba bersih positif dalam dua kuartal berturut-turut, yakni Rp 171 miliar pada kuartal I-2026 dan Rp 252 miliar pada kuartal II-2026. Pada kuartal II-2026, pendapatan bersih GOTO tumbuh 31% secara tahunan menjadi Rp 5,7 triliun. Sementara itu, adjusted EBITDA telah menembus Rp 1 triliun, sejalan dengan target perusahaan untuk mencapai adjusted EBITDA 2026 sebesar Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun.
“Fundamental GOTO membaik, sementara harga saham sedang melewati fase penyesuaian,” kata Azis. Selain perbaikan kinerja, ruang aksi korporasi juga menjadi perhatian. GOTO memiliki anggaran maksimal Rp 3,5 triliun untuk pembelian kembali saham atau buyback.
Abdul Azis menilai level harga yang lebih rendah dapat menjadi pertimbangan bagi perseroan dalam menentukan waktu pelaksanaan buyback. “Di level harga sekarang, ini bisa menjadi waktu yang baik untuk buyback. Fundamental GOTO membaik, sementara harga saham sedang melewati fase penyesuaian. Meski begitu, pelaksanaannya tetap bergantung pada pertimbangan perusahaan,” ujarnya.
Amunisi lain berasal dari rencana pembatalan sekitar 32 miliar saham treasuri, yang akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 14 Oktober 2026. Jika disetujui, saham treasuri tersebut tidak akan dilepas kembali ke pasar.
CEO GOTO, Hans Patuwo, sebelumnya menyatakan bahwa pembatalan saham treasuri secara permanen akan mengurangi jumlah saham beredar dan meningkatkan persentase kepemilikan setiap pemegang saham secara proporsional. Dengan demikian, setelah fase awal perubahan harga akibat penghapusan batas Rp 50, pasar memiliki sejumlah faktor yang dapat dicermati pada GOTO.
Faktor-faktor tersebut meliputi meredanya tekanan jual, keberlanjutan perbaikan kinerja, potensi buyback, hingga keputusan RUPSLB mengenai pembatalan saham treasuri. “Faktor-faktor tersebut akan menjadi perhatian pasar dalam menentukan arah saham GOTO setelah proses price discovery mulai menemukan keseimbangan baru,” pungkas Azis.