JAKARTA – Muncul transaksi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), emiten yang terafiliasi dengan Low Tuck Kwong, di pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan nilai signifikan pada Selasa, 6 Oktober 2026. Data RTI mencatat sebanyak 333.333 lot saham Bayan Resources diperdagangkan di harga Rp 11.025 per saham, dengan total nilai transaksi mencapai Rp 367,5 miliar.
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi yang dirilis terkait detail transaksi negosiasi saham Bayan Resources tersebut. Sementara itu, di pasar reguler BEI, saham Bayan terpantau melemah 0,82% ke level Rp 12.150 pada sekitar pukul 09.22 WIB.
Sebelumnya, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) telah mengumumkan rencana pengalihan kepemilikan sebanyak 10.000.000.500 saham biasa atau setara 30% dari total sahamnya kepada PT Jhonlin Baratama (JB). PT Jhonlin Baratama merupakan perusahaan yang berada di bawah Jhonlin Group, yang dimiliki oleh Andi Syamsuddin Arsyad, atau dikenal sebagai Haji Isam.
Rencana transaksi ini didasarkan pada Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat yang telah ditandatangani oleh Low Tuck Kwong dan Elaine Low bersama PT Jhonlin Baratama pada tanggal 16 September 2026. Direktur PT Bayan Resources Tbk (BYAN), Jenny Quantero, mengkonfirmasi informasi mengenai rencana transaksi ini berdasarkan surat pemberitahuan yang diterima oleh perseroan.
“Setelah transaksi selesai dan seluruh kondisi pendahuluan terpenuhi, PT Jhonlin Baratama akan memiliki 10.000.000.500 saham biasa BYAN,” ungkap Jenny dalam keterangan resminya pada Kamis, 17 September 2026.
BYAN menyatakan bahwa aksi pengalihan saham tersebut tidak akan menimbulkan dampak material negatif terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha Bayan Resources. Transaksi ini masih menunggu pemenuhan sejumlah persyaratan pendahuluan yang tercantum dalam perjanjian jual beli saham bersyarat.
PT Jhonlin Baratama milik Haji Isam dikenal luas bergerak di bidang kontraktor pertambangan batu bara, yang berawal dari aktivitas bisnis pertambangan di Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Di sisi lain, Bayan Resources merupakan produsen batu bara termal terbesar ketiga di Indonesia berdasarkan volume produksi dan termasuk perusahaan batu bara dengan operasi paling terintegrasi di Asia Tenggara.
Emiten dengan kode saham BYAN ini mengoptimalkan skala produksi yang besar serta rantai logistik milik sendiri, mulai dari area tambang hingga pelabuhan. Integrasi ini memungkinkan BYAN untuk mempertahankan struktur biaya yang rendah dan margin keuntungan yang relatif tangguh, seperti yang diuraikan oleh analis KB Valbury Sekuritas, Adolf RB Setiadi, dalam risetnya.
Operasi yang terintegrasi membuat proses pengangkutan dan pengiriman batu bara oleh BYAN menjadi lebih efisien. Pada tahun 2025, biaya tunai (_cash cost_) BYAN tercatat sebesar US$ 32,5 per metrik ton (MT), lebih rendah dibandingkan panduan sebesar US$ 39,1/MT. Pencapaian ini turut didukung oleh rasio pengupasan tanah penutup (_stripping ratio_/SR) sebesar 3,9 kali, yang lebih rendah dari target 4,5 kali dan merupakan salah satu yang terendah di industri batu bara Indonesia.
Sebagai perbandingan, _stripping ratio_ emiten lain seperti PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) mencapai 5,4 kali, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar 6 kali, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebesar 6,1 kali, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) sebesar 9,4 kali.