Saham BBCA Anjlok Akibat Isu Akuisisi, Ini Penjelasan BCA dan Rekomendasi Analis

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menunjukkan tren penurunan pada perdagangan Rabu (30/9/2026), anjlok 1,22% ke level Rp 6.075. Tekanan jual investor asing tercatat signifikan dengan aksi net sell sebesar Rp 176,3 miliar.

Penurunan ini melanjutkan tren negatif saham emiten bank besar tersebut dalam dua hari bursa sebelumnya. Pada Selasa (29/9/2026), saham BCA juga mencatatkan net sell asing senilai Rp 138,79 miliar, berbanding terbalik dengan kondisi tiga hari bursa sebelumnya yang didominasi aksi net buy investor asing.

Volume perdagangan saham BCA tercatat melonjak setiap harinya sejak 28 September. Seharian kemarin, sebanyak 221,34 juta saham BCA diperdagangkan melalui 28.248 frekuensi transaksi dengan nilai mencapai Rp 1,35 triliun. Lonjakan volume ini terjadi bersamaan dengan ramainya informasi tidak benar mengenai akuisisi BCA di media sosial, yang kemudian memicu reaksi penurunan harga saham.

Menanggapi informasi yang beredar, manajemen BCA telah memberikan klarifikasi resmi terkait bantahan rencana akuisisi oleh Haji Isam. Sekretaris Perusahaan BCA, Rudy Budiardjo, menegaskan bahwa informasi mengenai rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA adalah tidak benar.

“Kami mengimbau nasabah dan masyarakat untuk mengakses informasi dari sumber-sumber yang resmi, baik dari situs resmi perusahaan maupun outlet media yang kredibel,” ujar Rudy Budiardjo dalam keterbukaan informasi yang dikutip pada Rabu (30/9/2026).

Di tengah fluktuasi harga saham, broker UOB Kay Hian Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan target harga Rp 8.150. Target ini menawarkan potensi kenaikan sebesar 30% dari harga saat riset disusun. BBCA bahkan menjadi saham pilihan teratas broker di sektor perbankan.

Alasan di balik rekomendasi tersebut adalah profil pendanaan BCA yang solid, serta modal dan likuiditas yang memadai. UOB Kay Hian Sekuritas memproyeksikan rerating valuasi BBCA dapat terjadi seiring dengan perbaikan kinerja ekonomi makro Indonesia dan kembalinya aliran dana asing ke pasar saham.

Data kinerja keuangan BCA menunjukkan laba bersih (bank only) pada Agustus 2026 mencapai Rp 4,92 triliun, meningkat 13,1% secara tahunan. Akumulasi laba bersih hingga periode tersebut mencapai Rp 40,17 triliun, dengan pertumbuhan 2,85%.

UOB Kay Hian Sekuritas memprediksi laba bersih BBCA pada tahun 2026 akan mencapai Rp 60 triliun, dan diproyeksikan tumbuh menjadi Rp 65 triliun pada tahun 2027. Perkiraan yield dividen untuk tahun 2026 adalah 5,7%, yang diperkirakan akan meningkat menjadi 6,1% pada tahun 2027.

Tinggalkan komentar