Saham GOTO Diburu di Level Rp 29-30, Valuasi PBV Capai 1 Kali

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menunjukkan minat beli yang tinggi pada perdagangan Senin (5/10/2026). Sekitar pukul 15.32 WIB, harga saham GOTO bergerak di kisaran Rp 29-30 dengan nilai transaksi yang melonjak hingga Rp 440 miliar.

Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, saham GOTO mencatatkan ‘net buy’ hingga Rp 200 miliar. Pada jeda siang hari yang sama, investor asing juga membukukan ‘net buy’ senilai Rp 18,02 miliar untuk saham GoTo Gojek Tokopedia.

Secara valuasi, rasio ‘price to book value’ (PBV) GOTO saat ini berada di kisaran 1 kali. Rasio ini mengukur perbandingan harga saham di pasar dengan nilai buku per saham. Menurut Stockbit Sekuritas, nilai buku GOTO tercatat Rp 27,2 per saham.

Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis, menyatakan bahwa investor tidak perlu panik melihat saham GOTO diperdagangkan di bawah Rp 50. Ia menjelaskan bahwa pergerakan harga di bawah batas tersebut telah diantisipasi pasar sejak rencana perubahan batas harga diumumkan. Bahkan, transaksi saham GOTO di pasar negosiasi pada harga di bawah Rp 50 sebelumnya dapat menjadi referensi pembentukan harga di pasar reguler.

“Yang sedang terjadi adalah proses ‘price discovery’. Pasar mencari titik keseimbangan baru untuk saham GOTO dengan mempertemukan harga yang diinginkan penjual dan pembeli,” ujar Abdul Azis kepada media, Selasa (29/9/2026).

Ia memperkirakan volatilitas masih mungkin terjadi selama proses pembentukan harga. Namun, setelah tekanan jual mereda, perhatian pasar berpotensi kembali bergeser ke fundamental perusahaan. Hal ini sejalan dengan perbaikan kinerja GOTO sepanjang 2026, di mana perseroan berhasil membukukan laba bersih positif dalam dua kuartal berturut-turut, yaitu Rp 171 miliar pada kuartal I-2026 dan Rp 252 miliar pada kuartal II-2026.

Pada kuartal II-2026, pendapatan bersih GOTO tumbuh 31% secara tahunan menjadi Rp 5,7 triliun. ‘Adjusted’ EBITDA perseroan telah menembus Rp 1 triliun, menunjukkan GOTO masih berada di jalur untuk mencapai target ‘adjusted’ EBITDA 2026 sebesar Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun.

“Fundamental GOTO membaik, sementara harga saham sedang melewati fase penyesuaian,” kata Azis.

Selain perbaikan kinerja, ruang aksi korporasi juga menjadi perhatian investor. GOTO memiliki anggaran maksimal Rp 3,5 triliun untuk ‘buyback’ atau pembelian kembali saham. Abdul Azis menilai level harga yang lebih rendah saat ini bisa menjadi pertimbangan bagi perseroan dalam menentukan waktu pelaksanaan ‘buyback’, meskipun keputusan akhir tetap berada di tangan manajemen.

“Di level harga sekarang, ini bisa menjadi waktu yang baik untuk ‘buyback’. Fundamental GOTO membaik, sementara harga saham sedang melewati fase penyesuaian. Meski begitu, pelaksanaannya tetap bergantung pada pertimbangan perusahaan,” ujarnya.

Amunisi lain berasal dari rencana pembatalan sekitar 32 miliar saham treasuri, yang akan dimintakan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 14 Oktober 2026. Apabila disetujui dan dilaksanakan, saham treasuri tersebut tidak akan dilepas kembali ke pasar. CEO GOTO Hans Patuwo sebelumnya menyatakan bahwa pembatalan saham treasuri secara permanen akan mengurangi jumlah saham beredar dan meningkatkan persentase kepemilikan setiap pemegang saham secara proporsional.

Dengan demikian, setelah fase awal perubahan harga akibat penghapusan batas Rp 50, pasar kini memiliki sejumlah faktor yang dapat dicermati pada GOTO. Faktor-faktor tersebut meliputi meredanya tekanan jual, keberlanjutan perbaikan kinerja, potensi ‘buyback’, hingga keputusan RUPSLB mengenai pembatalan saham treasuri.

“Faktor-faktor tersebut akan menjadi perhatian pasar dalam menentukan arah saham GOTO setelah proses ‘price discovery’ mulai menemukan keseimbangan baru,” pungkas Azis.

Tinggalkan komentar