PMI Manufaktur Indonesia Tetap Solid di Tengah Beragam Krisis

JAKARTA – Industri manufaktur Indonesia menunjukkan kinerja yang solid meskipun dihantam berbagai krisis, baik dari sisi domestik maupun global. Ketahanan sektor ini tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang dirilis oleh S&P Global.

Selama tahun berjalan, PMI Manufaktur Indonesia mayoritas berada di zona ekspansi, yang berarti angka di atas 50. Tiga bulan yang sempat berada di bawah 50, yaitu April, Juni, dan Agustus, menunjukkan fluktuasi bulanan yang wajar terjadi pada indikator ini. PMI Manufaktur sendiri sangat rentan terhadap faktor-faktor temporer yang dapat menggoyahkan angka dalam jangka pendek.

Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal menekankan pentingnya melihat tren keseluruhan kinerja industri manufaktur, bukan hanya data bulanan. “Kita tidak bisa menilai kinerja industri manufaktur hanya dengan melihat PMI Manufaktur dalam satu bulan saja. Jadi, melihat tren secara keseluruhan,” ujarnya.

Faisal menjelaskan bahwa industri manufaktur terus berada di bawah tekanan sejak lepas dari pandemi Covid-19. Tekanan eksternal datang dari fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mengerek biaya bahan baku. Gangguan rantai pasok akibat perang di Timur Tengah dan kenaikan harga energi dunia juga turut menambah beban.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga memengaruhi biaya produksi bagi industri yang bergantung pada pasokan bahan baku atau barang modal dari luar negeri. Kondisi domestik juga tidak sepenuhnya kondusif, dengan penurunan daya beli masyarakat yang ditopang belanja kelas menengah.

Meskipun demikian, kembalinya PMI ke zona ekspansif pada September, mencapai 52,4, memberikan sinyal positif, terutama terhadap penyerapan tenaga kerja. Industri manufaktur tetap menjadi salah satu sektor utama penyerapan tenaga kerja, dengan menyerap sekitar 20,5 juta orang.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menambahkan bahwa Indonesia terbilang berhasil menyelamatkan kinerja industri manufakturnya, meski belum sepenuhnya pulih. PMI yang mayoritas stabil di zona ekspansif pascapandemi menjadi bukti ketahanan sektor ini.

Esther mengakui adanya rintangan yang dihadapi industri manufaktur, seperti pelambatan ekonomi negara mitra dagang dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. “Tanpa pandemi saja, dengan berbagai faktor saat ini, industri manufaktur sulit bertahan pada zona ekspansi,” katanya.

Namun, ia mengapresiasi bahwa industri manufaktur nasional tetap bisa bertahan sepanjang 2026 yang diwarnai berbagai ancaman. “September 2026, manufaktur kembali pada zona ekspansi, meski ada ketegangan geopolitik dan naiknya biaya input,” tukasnya.

Para ekonom menilai kebijakan yang telah dijalankan setidaknya menjadi fondasi bagi arah industri manufaktur. Hantaman pandemi Covid-19 yang disusul krisis global saat ini terbukti tidak membuat industri manufaktur terpuruk.

Tinggalkan komentar