IHSG Diperkirakan Bergerak di Bawah 6.000, Lima Saham Ini Disebut Berpotensi Menguat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan kembali menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat (2/10/2026). Phintraco Sekuritas memperkirakan pergerakan IHSG akan berada di rentang resistance 6.100, pivot 6.000, dan support 5.900. Jika IHSG gagal bertahan di atas level psikologis 6.000, potensi pelemahan lebih lanjut hingga menyentuh 5.800-5.900 sangat terbuka.

Perkiraan ini menyusul penutupan IHSG yang melemah 1,02% ke level 6.009,5 pada Kamis (1/10/2026). Sempat menyentuh level 5.973, IHSG akhirnya berhasil kembali ke atas 6.000 menjelang penutupan sesi.

Dalam risetnya pada Jumat (2/10/2026), Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 3,28% secara tahunan (YoY), naik dari 3,19% YoY pada Agustus. Inflasi bulanan tercatat 0,30% dengan inflasi inti sebesar 2,84% YoY.

Peningkatan inflasi ini terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 4,37% YoY. Meskipun inflasi headline meningkat, Phintraco Sekuritas menilai inflasi inti yang masih relatif terkendali mengindikasikan tekanan permintaan domestik belum terlalu kuat. Hal ini diperkirakan belum akan memberikan tekanan besar bagi Bank Indonesia (BI) untuk memperketat kebijakan moneter.

“Namun, kenaikan harga pangan perlu dicermati karena dapat meningkatkan risiko tekanan inflasi ke depan. Dampak inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya daya beli konsumen,” jelas Phintraco Sekuritas.

Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026, melonjak signifikan dari surplus US$ 120 juta pada Juli. Surplus ini ditopang oleh ekspor yang mencapai US$ 26,61 miliar atau tumbuh 6,72% YoY, sementara impor tercatat US$ 23,06 miliar atau tumbuh 19,09% YoY.

Surplus perdagangan didominasi oleh sektor nonmigas, khususnya produk logam dan komoditas hasil hilirisasi. Namun, sektor migas tercatat mengalami defisit.

Phintraco Sekuritas mengingatkan bahwa pertumbuhan impor yang jauh lebih cepat daripada ekspor perlu dicermati. Hal ini berpotensi mempersempit surplus perdagangan ke depan, terutama jika terjadi pelemahan permintaan global dan harga komoditas.

Meskipun IHSG menghadapi tantangan, Phintraco Sekuritas merekomendasikan lima saham yang dinilai memiliki potensi untuk melawan tren pelemahan pasar. Kelima saham tersebut adalah AADI, VKTR, DSSA, PTRO, dan CUAN.

Tinggalkan komentar