Para analis di Bank of America (BofA) memproyeksikan harga emas berpotensi mengalami penurunan signifikan hingga mencapai US$ 3.750 per troy ounce pada kuartal keempat tahun 2026. Prediksi ini didasarkan pada analisis tren harga energi global dan dinamika pasar saat ini.
Menurut laporan yang dikutip dari Kitco News, Jumat (2/10/2026), BofA mengidentifikasi posisi pasar saat ini sebagai risiko terbesar bagi pergerakan harga emas, terutama di tengah tingginya ketidakpastian global.
“Meskipun harga sedang tertekan, sejauh ini investor dan pedagang cenderung mengabaikan beberapa hambatan jangka pendek, dengan banyak pihak yang memperkirakan harga akan kembali naik di masa mendatang. Kami menilai keseimbangan sentimen ini cukup rapuh. Oleh karena itu, jika tidak ada penyelesaian atas konflik di Timur Tengah, pembongkaran posisi pasar secara cepat dapat menekan harga emas turun dengan relatif cepat,” ujar para analis di BofA.
BofA menyatakan bahwa sejak awal 2026, kenaikan harga emas sangat bergantung pada pemulihan permintaan investasi. Pada Januari 2026, bank tersebut memperkirakan permintaan investasi perlu meningkat sebesar 14% agar harga emas dapat bertahan di kisaran US$ 5.000 per troy ounce.
Kendati permintaan investasi telah menunjukkan peningkatan dan tetap tangguh, BofA mencatat bahwa level permintaan saat ini hanya mampu menopang harga emas di kisaran US$ 4.000 per troy ounce. “Permintaan investor perlu meningkat lebih pesat untuk mendorong harga emas mendekati US$ 5.000 per troy ounce, dan mengingat adanya perang Iran, hal ini tampak tidak realistis untuk saat ini,” jelas para analis.
Selain itu, BofA juga menyoroti bahwa perang AS-Iran menimbulkan risiko tambahan bagi harga emas, di luar kekhawatiran akan inflasi. Adanya potensi lonjakan harga minyak dapat memaksa bank sentral untuk menjual cadangan emas demi menopang perekonomian dan mata uang negara masing-masing, sebuah skenario yang pernah terjadi pada awal konflik.
“Bank sentral beralih menjadi penjual bersih pada bulan Maret, saat kenaikan harga minyak menekan mata uang dan neraca transaksi berjalan negara-negara pengimpor energi,” ungkap BofA. “Kini terdapat risiko terulangnya situasi tersebut, yang dapat memperparah hambatan pasar jika investor ritel mulai melikuidasi kepemilikan ETF mereka,” bebernya.