Rupiah Melemah Akibat Gejolak Timur Tengah dan Data Ekonomi AS

Nilai tukar rupiah (IDR) kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan awal pekan, Senin, 28 September 2026. Pada penutupan perdagangan sore hari, rupiah tercatat melemah 75 poin atau 0,42% ke level Rp 17.978 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.915 per dolar AS. Sebelumnya pada siang hari, rupiah sempat menguat tipis 13 poin ke level Rp 17.902 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah ini terus berlanjut seiring dengan gejolak harga minyak dunia yang dipicu oleh dampak konflik di Timur Tengah. Kenaikan harga minyak yang signifikan dikhawatirkan akan semakin menekan fiskal Indonesia.

“Harga minyak dunia yang bertahan di atas US$ 90 per barel meningkatkan risiko terhadap perekonomian Indonesia. Dampak kenaikan harga minyak terhadap Indonesia terutama terlihat melalui tiga jalur, yakni inflasi, fiskal, dan keseimbangan eksternal,” papar Ibrahim dalam keterangan tertulis yang diperoleh pada Senin (28/9/2026).

Ibrahim menyoroti bahwa asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 berada di US$ 70 per barel, sementara ICP pada bulan Juli telah mencapai US$ 81,68 per barel. “ICP pada kisaran US$ 80-90 per barel masih dapat dikelola apabila kenaikan berlangsung sementara. Namun, tekanan fiskal akan semakin besar jika ICP bertahan di kisaran US$ 90-100 per barel atau lebih selama beberapa bulan,” ujarnya.

Dari sisi eksternal, pelemahan rupiah juga terus bertahan seiring sentimen pasar terkait geopolitik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Iran baru-baru ini menyatakan tidak akan melunakkan syarat-syaratnya untuk membuka kembali Selat Hormuz. Usulan Iran mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari dengan negosiasi yang lebih luas, dengan syarat AS mencabut blokade angkatan laut, melonggarkan tekanan militer, menghapus sanksi atas penjualan minyak Iran, serta menyetujui gencatan senjata.

Selain itu, pelemahan rupiah juga terjadi menjelang agenda rilis data ekonomi Amerika Serikat yang padat pada minggu ini. Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan rilis pada hari Rabu, diikuti oleh data ISM Manufacturing PMI pada hari Kamis dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada hari Jumat.

Tinggalkan komentar