JAKARTA – PT XL Axiata Tbk (EXCL) mengalokasikan dana investasi besar untuk memperkuat kualitas jaringannya. Perusahaan merevisi alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini dari Rp15 triliun menjadi Rp20 triliun.
Revisi capex ini sejalan dengan diaktifkannya spektrum frekuensi 700 MHz dan 2.600 MHz yang dimenangkan EXCL pada lelang Juli lalu senilai Rp1,06 triliun. Kemenangan ini mengungguli pesaing utamanya, Telkomsel (TLKM) dan Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT).
Peningkatan investasi juga paralel dengan percepatan jadwal belanja jaringan. XL Axiata menargetkan untuk menjangkau 101 kota dengan layanan 5G pada akhir 2026, yang berarti mencakup 50% wilayah nasional. Hingga semester I-2026, jaringan 5G perseroan telah hadir di 52 kota dengan 15 ribu BTS 5G, melayani 23% populasi nasional.
Direktur dan Chief Regulatory Officer XL Axiata, Merza Fachys, menyatakan target 101 kota akan tersebar merata di seluruh Indonesia. Selain 5G, jaringan 4G juga akan dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Dengan spektrum yang demikian lebar, kami berkesempatan meningkatkan jaringan melalui pemanfaatan teknologi 5G. Karena untuk membangun 5G berkualitas, spektrum harus dedicated untuk 5G bukan sharing-sharing. Kami punya kesempatan itu. Sebab, dengan hasil merger, spektrum kami bertambah lebar empat kali lipat,” papar Merza.
Merza menambahkan, pengembangan kualitas jaringan merupakan prioritas utama perseroan. XL Axiata memiliki dua agenda prioritas: melanjutkan investasi dan memperkenalkan infrastruktur jaringan yang sudah dibangun kepada publik. Upaya ini bukan sekadar untuk tujuan pemasaran, melainkan sebagai bukti komitmen perusahaan.
“Jadi, ini adalah pertaruhan investasi yang sangat besar,” tegasnya.
Meskipun menginvestasikan dana besar, Merza memastikan dukungan penuh dari pemegang saham. Ia meyakini pembangunan infrastruktur jaringan di Indonesia sangat penting, mengingat target negara menjadi kekuatan ekonomi digital di Asia Tenggara.
Konsekuensinya, pembangunan infrastruktur jaringan tidak hanya terbatas di dalam negeri, tetapi juga internasional. XL Axiata telah menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi global seperti Meta, Globe Telecom, IPS Inc., Telekom Malaysia, SoftBank Japan, dan NEC untuk membangun sistem komunikasi kabel laut (SKKL) sepanjang 8.000 kilometer. SKKL ini ditargetkan menghubungkan Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, hingga Taiwan dan mulai beroperasi pada 2028.
“Jadi, kami sudah berada di jalur yang tepat. Kami akan terus mencari cooperation dan collaboration dengan semua pihak agar apa yang sudah kami bangun bisa dimanfaatkan maksimal,” tutur Merza.
Target Pendapatan dan Kinerja Keuangan
Analis CGS International Sekuritas, Bob Setiadi, mencatat manajemen XL Axiata mempertahankan target pertumbuhan pendapatan tahun buku 2026 di kisaran 9,6% hingga 12,2%. Sinergi merger bruto ditargetkan mencapai US$250 juta hingga US$300 juta dengan margin EBITDA 40%.
XL Axiata memproyeksikan tren rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) akan membaik dalam jangka panjang melalui penetapan harga yang lebih baik, peningkatan penggunaan data, dan adopsi 5G. Meskipun, ARPU gabungan diperkirakan sedikit menurun secara kuartalan.
Jumlah pelanggan seluler yang stabil pada kuartal II-2026, setelah pemangkasan pelanggan tidak aktif, membuat manajemen memprioritaskan pelanggan bernilai lebih tinggi ketimbang pertumbuhan volume.
Manajemen juga memproyeksikan beban penyusutan tahun penuh 2026 dipercepat menjadi sekitar Rp4,5 triliun–Rp5 triliun. Angka ini sedikit lebih rendah dari perkiraan Bob Setiadi di Rp5,1 triliun. Rinciannya, Rp3,7 triliun dibukukan pada semester I-2026 dan sekitar Rp1 triliun pada kuartal III-2026, yang mengindikasikan laporan laba yang lebih bersih mulai kuartal IV-2026.
Selain itu, pedoman biaya integrasi untuk tahun penuh 2026 diturunkan menjadi di bawah Rp300 miliar dari sebelumnya di bawah Rp500 miliar. Sinergi biaya bruto pada semester I-2026 mencapai US$153 juta, atau 51–61% dari target tahun penuh 2026.
Target Harga Saham dan Prospek
Bob Setiadi menetapkan target harga saham EXCL sebesar Rp3.550 dengan rekomendasi ‘add’, menggunakan basis Discounted Cash Flow (DCF). Ia meyakini laba bersih perseroan akan pulih pada 2027 dengan proyeksi Rp5,8 triliun, sehingga valuasi harga saham belum sepenuhnya mencerminkan potensi tersebut.
Saat ini, saham EXCL diperdagangkan pada rasio EV/EBITDA 12 bulan ke depan sebesar 4,6x, atau 0,5 standar deviasi di bawah rata-rata 5 tahun. Broker tersebut memperkirakan adanya ‘re-rating’ lanjutan bagi saham EXCL seiring membaiknya harga layanan data seluler.
Risiko bagi EXCL mencakup melambatnya integrasi jaringan dan tingginya tingkat kehilangan pelanggan (subscriber attrition) akibat penyederhanaan paket perdana. Kenaikan harga paket isi ulang dan sinergi merger yang lebih besar diharapkan menjadi katalis positif bagi saham EXCL.
Pada perdagangan Senin (28/9/2026), saham EXCL ditutup terkoreksi 0,86% ke posisi Rp2.310. Pelemahan ini menggenapi penurunan kinerja saham EXCL secara year-to-date menjadi 38,40%, menjadikannya emiten telekomunikasi dengan penurunan terbesar tahun ini. Saham TLKM juga terpantau turun 31,90% dan ISAT menyusut 3,45%.