Saham GOTO Bergerak di Bawah Rp 50, Analis Sebut Fase Penemuan Harga

JAKARTA – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) memasuki babak baru setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) mencabut batas minimum harga saham dari Rp 50 menjadi Rp 1. Pada perdagangan Senin (28/9/2026), saham GOTO langsung bergerak di bawah level gocap dan ditutup di Rp 43, menandai penurunan 14%.

Pergerakan ini dinilai sebagai bagian dari proses price discovery atau penemuan harga. Sebelumnya, saham GOTO tertahan di level Rp 50. Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis, menyatakan bahwa investor tidak perlu panik melihat saham GOTO diperdagangkan di bawah Rp 50.

Abdul Azis menjelaskan bahwa peluang GOTO bergerak di bawah Rp 50 sebenarnya telah diantisipasi pasar sejak rencana perubahan batas harga diumumkan. Transaksi saham GOTO di pasar negosiasi pada harga di bawah Rp 50 sebelumnya bahkan bisa menjadi referensi pembentukan harga di pasar reguler.

“Yang sedang terjadi adalah proses price discovery. Pasar mencari titik keseimbangan baru untuk saham GOTO dengan mempertemukan harga yang diinginkan penjual dan pembeli,” ujar Abdul Azis kepada media, Selasa (29/9/2026).

Ia memperkirakan volatilitas masih mungkin terjadi selama proses pembentukan harga berlangsung. Namun, setelah tekanan jual mereda, perhatian pasar berpotensi kembali bergeser ke fundamental perusahaan yang menunjukkan perbaikan.

Kinerja GOTO sepanjang 2026 memang menunjukkan tren positif. Perseroan berhasil membukukan laba bersih positif dalam dua kuartal berturut-turut, yaitu Rp 171 miliar pada kuartal I-2026 dan Rp 252 miliar pada kuartal II-2026.

Pada kuartal II-2026, pendapatan bersih GOTO tumbuh 31% secara tahunan menjadi Rp 5,7 triliun. Sementara itu, adjusted EBITDA telah menembus Rp 1 triliun. Dengan capaian ini, perseroan masih berada di jalur untuk mencapai target adjusted EBITDA 2026 sebesar Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun.

“Fundamental GOTO membaik, sementara harga saham sedang melewati fase penyesuaian,” kata Azis.

Selain perbaikan kinerja, ruang aksi korporasi juga menjadi sorotan. GOTO memiliki anggaran maksimal Rp 3,5 triliun untuk program pembelian kembali saham atau buyback.

Menurut Abdul Azis, level harga yang lebih rendah dapat menjadi pertimbangan bagi perseroan dalam menentukan waktu pelaksanaan buyback. Meskipun demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan manajemen.

“Di level harga sekarang, ini bisa menjadi waktu yang baik untuk buyback. Fundamental GOTO membaik, sementara harga saham sedang melewati fase penyesuaian. Meski begitu, pelaksanaannya tetap bergantung pada pertimbangan perusahaan,” ujarnya.

Amunisi lain yang dimiliki GOTO berasal dari rencana pembatalan sekitar 32 miliar saham treasuri. Rencana ini akan dimintakan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 14 Oktober 2026.

Apabila disetujui dan dilaksanakan, saham treasuri tersebut tidak akan dilepas kembali ke pasar. CEO GOTO Hans Patuwo sebelumnya menyatakan bahwa pembatalan saham treasuri secara permanen akan mengurangi jumlah saham beredar dan meningkatkan persentase kepemilikan setiap pemegang saham secara proporsional.

Dengan demikian, setelah fase awal perubahan harga akibat penghapusan batas Rp 50, pasar kini memiliki sejumlah faktor yang dapat dicermati pada GOTO. Faktor-faktor tersebut meliputi meredanya tekanan jual, keberlanjutan perbaikan kinerja, potensi buyback, hingga keputusan RUPSLB mengenai pembatalan saham treasuri.

“Faktor-faktor tersebut akan menjadi perhatian pasar dalam menentukan arah saham GOTO setelah proses price discovery mulai menemukan keseimbangan baru,” pungkas Azis.

Tinggalkan komentar