Potensi Pangan Lokal: Kimpul dan Talas Jadi Alternatif Gandum

Kimpul, pangan lokal yang populer di Jawa, kini menjadi sorotan setelah seorang warga Bantul, Yogyakarta, berhasil mengolahnya menjadi beragam produk menarik. Inovasi ini mendapat apresiasi dari Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, yang melihatnya sebagai contoh nyata potensi pengembangan pangan lokal di Indonesia.

Zulkifli Hasan, dalam program #ZulhasBikinJelas bersama detikcom, menekankan kekayaan pangan lokal Indonesia yang belum sepenuhnya tergarap. Ia menyebutkan berbagai jenis pangan seperti porang, ketela, ubi, dan singkong yang memiliki potensi besar untuk diolah menjadi makanan lezat serta bergizi.

“Kimpul itu kan sebutan di Jawa, di tempat lain mungkin beda namanya. Kita apresiasi ibu itu karena bisa menggali kekayaan Indonesia. Kita punya banyak (pangan lokal), seperti porang, ketela, ubi, singkong, yang semua bisa diproduksi jadi makanan lezat dan kaya gizi,” ujar Zulhas.

Soroti Olahan Pangan Lokal di Dunia

Dalam kesempatan yang sama, Zulhas juga menyoroti bagaimana negara-negara di Amerika Latin telah berhasil mengoptimalkan pemanfaatan pangan lokal mereka. Ia mencontohkan penggunaan singkong sebagai bahan dasar pembuatan roti di negara-negara seperti Kolombia dan Nikaragua.

Menurut Zulhas, Indonesia memiliki kondisi iklim tropis yang serupa, namun potensi pangan lokalnya belum dimanfaatkan secara maksimal. Ia menyayangkan ketergantungan pada gandum yang harus diimpor, padahal Indonesia memiliki sumber daya pangan lokal yang melimpah.

“Waktu saya kunjungan kerja dulu ke beberapa negara Amerika Latin. (Mereka) sama dengan kita, tropis juga. Mereka itu mengoptimalkan kekayaan makanan lokalnya,” ucapnya.

“Kalau di Amerika Latin, seperti Kolombia, Nikaragua, dan lain-lain, roti itu dibuat dari tepung singkong. Kalau kita kan tidak mau pusing, pakai gandum saja. Padahal gandum tidak tumbuh di tempat kita, harus impor. Sebetulnya itu agak berbahaya,” imbuhnya.

Tekan Impor Gandum, Dorong Diversifikasi Pangan

Zulhas mengungkapkan keprihatinannya terhadap lonjakan konsumsi gandum di Indonesia. Jika pada tahun 2024 konsumsi gandum tercatat sekitar 4 juta ton per tahun, kini angka tersebut telah melonjak hingga sekitar 13 juta ton per tahun.

“Waktu tahun 2024 saya jadi anggota DPR, kita konsumsi gandum itu 4 juta ton per tahun, sekarang sudah 13 juta ton. Bahaya sekali kalau kita makan yang tidak bisa kita produksi. Dikit-dikit gandum, roti, mie, kue, semuanya dari gandum,” tegasnya.

Untuk mengatasi hal ini, Zulhas mendorong program diversifikasi pangan lokal. Ia menilai ubi, kimpul, atau talas memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk tradisional. Contohnya, talas dapat diolah menjadi mi seperti soba di Jepang, atau porang yang diolah menjadi beras shirataki untuk diet, keduanya memiliki nilai jual tinggi.

“Di Jepang, talas itu diolah jadi mi seperti soba. Soba dari talas atau ubi itu harganya mahal sekali. Atau porang yang diolah jadi beras shirataki untuk diet, harganya juga mahal,” ucapnya.

Ia menambahkan, peningkatan konsumsi pangan lokal akan berdampak positif pada kesejahteraan petani Indonesia yang jumlahnya mencapai lebih dari 100 juta orang. “Usahakan konsumsi pangan lokal. Kalau kita terus impor gandum, petani kita yang berjumlah lebih dari 100 juta orang akan tersisih dan miskin,” pungkasnya.

Tinggalkan komentar