TANGERANG – Tren fesyen yang dinamis membuka peluang lebar bagi Generasi Z (Gen Z) untuk membangun bisnis di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya dalam industri pakaian jadi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan potensi besar ini, dengan proyeksi 578.211 perusahaan industri mikro dan 33.010 perusahaan industri kecil pada sektor pakaian jadi (KBLI 14) di tahun 2025, yang jika digabungkan mencapai lebih dari 611 ribu unit usaha.
Jumlah pelaku usaha yang masif ini mengindikasikan aktivitas bisnis yang luas di industri pakaian jadi. Kondisi ini memungkinkan para perintis usaha untuk memulai bisnis dari rumah, memanfaatkan kekuatan media sosial untuk promosi produk. Setelah pasar terbentuk, usaha dapat dikembangkan secara bertahap, termasuk membuka toko fisik.
Membangun bisnis fesyen tidak sekadar menjual pakaian populer. Kualitas produk menjadi kunci utama untuk membangun kepercayaan konsumen dan mendorong pembelian berulang. Kementerian Perdagangan menyoroti pentingnya hal ini dengan mempertemukan UMKM fashion dengan jaringan ritel modern. Sebanyak 11 jenama lokal binaan berhasil menjalin kemitraan dengan Metro Department Store setelah melalui proses kurasi.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menekankan, “Syarat utama bagaimana bisa masuk di Metro Department Store atau di ritel modern yang lainnya adalah kualitasnya, karena kualitas ini akan menjaga kepercayaan.” Pelaku usaha juga perlu memahami siapa konsumennya dan bagaimana menciptakan produk dengan ciri khas yang mudah dikenali, terutama di tengah persaingan merek fashion yang beragam di ruang digital.
Kementerian Perindustrian turut mendukung pengembangan UMKM fesyen melalui program Creative Business Incubator (CBI). Program ini bertujuan memperkuat kapabilitas pelaku usaha dalam strategi bisnis, pengembangan produk, hingga akses pasar. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menambahkan, “Mereka juga perlu memiliki strategi bisnis yang tepat, memahami karakter konsumennya, serta mampu membangun identitas dan keunikan produk.”
Bagi Gen Z, membangun merek fesyen bisa dimulai dari ide sederhana, seperti mengangkat desain dengan karakter tertentu, menyasar kelompok konsumen spesifik, atau memproduksi dalam jumlah terbatas. Respons pasar akan menjadi panduan untuk pengembangan bisnis secara bertahap.
Pada akhirnya, kesuksesan bisnis fesyen bagi Gen Z tidak hanya ditentukan oleh kecepatan mengikuti tren. Kemampuan membaca pasar, mempertahankan kualitas produk, dan menciptakan identitas merek yang kuat menjadi elemen krusial untuk bertahan di tengah persaingan ketat.
Sektor tekstil dan pakaian jadi merupakan salah satu pilar industri pengolahan non-migas di Indonesia. Pergeseran lanskap ekonomi ke arah digital telah mengubah pola konsumsi, terutama pada generasi muda, yang beralih dari belanja konvensional ke platform e-commerce dan media sosial. Keahlian Gen Z sebagai digital native memangkas hambatan masuk ke industri fashion, namun tingginya persaingan menuntut sinergi antara kebijakan pemerintah dan jaringan ritel swasta untuk memastikan UMKM lokal tidak hanya tumbuh, tetapi juga naik kelas menjadi merek yang profesional dan berkelanjutan.