JAKARTA – Usaha kopi keliling menawarkan peluang bisnis yang menarik bagi Generasi Z (Gen Z) yang memiliki kebiasaan ngopi. Dengan modal awal yang relatif terjangkau, sekitar Rp 5 hingga Rp 8 juta untuk sebuah stand portable yang dimodifikasi pada kendaraan seperti motor, bisnis ini dinilai sangat cocok untuk dipertimbangkan.
Kebiasaan ngopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari Gen Z. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan konsumsi kopi instan di Jakarta pada tahun 2025 mencapai 7,751 sachet per minggu, mengindikasikan tingginya minat masyarakat terhadap kopi. Besarnya angka konsumsi ini membuka celah bagi Gen Z untuk memanfaatkannya sebagai ide bisnis yang potensial.
Per Februari 2026, tercatat 95,32% penduduk Indonesia berstatus bekerja. Mayoritas dari mereka seringkali menyempatkan diri untuk ngopi di sela jam makan siang. Momen ini menjadi zona dekompresi penting dari kesibukan dan stres pekerjaan sebelum kembali melanjutkan aktivitas.
Target pasar kopi keliling tidak hanya terbatas pada kafe-kafe besar, tetapi juga menjangkau para penjual kopi keliling yang menawarkan kepraktisan dan kemudahan akses di berbagai lokasi, termasuk perkantoran. Fenomena ini menjadikan usaha kopi keliling bukan sekadar bisnis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) biasa, melainkan sebuah evergreen business.
Berbeda dengan minuman ringan yang trennya cepat berganti, kopi adalah minuman familiar yang dikonsumsi lintas generasi dan waktu. Kopi dapat dinikmati kapan saja, baik pagi, siang, maupun malam hari, menjadikannya komoditas yang stabil dan tidak lekang oleh waktu.
Potensi Keuntungan Usaha Kopi Keliling
Menurut informasi dari Pegadaian pada Kamis (1/10/2026), modal awal menjadi salah satu persiapan krusial. Biaya untuk modifikasi stand portable pada motor umumnya berkisar antara Rp 5 hingga Rp 8 juta.
Untuk bahan baku, harga bubuk kopi per kilogram berkisar Rp 60.000 hingga Rp 100.000, gula pasir Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per kilogram, susu kental manis sekitar Rp 10.000 hingga Rp 12.000 per kaleng, dan air mineral galon seharga Rp 20.000. Jika menjual kopi dingin, biaya tambahan untuk es batu sekitar Rp 10.000 perlu diperhitungkan.
Secara keseluruhan, kebutuhan bahan baku harian diperkirakan mencapai Rp 100.000 hingga Rp 200.000 untuk memproduksi sekitar 100 gelas kopi. Angka ini dapat bervariasi tergantung pada resep dan variasi menu yang ditawarkan.
Untuk menentukan harga jual yang kompetitif, penjual disarankan mempertimbangkan jenis kopi, target pasar, dan biaya produksi. Penetapan harga sekitar Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per gelas dapat menjadi pilihan yang menarik dibandingkan harga di kafe.
Jika mampu menjual 40 hingga 50 gelas kopi setiap hari dengan harga tersebut, omzet harian dapat mencapai Rp 400.000 hingga Rp 500.000. Dengan penjualan yang konsisten selama sebulan, omzet kotor bisa mencapai Rp 6 juta hingga Rp 12 juta. Namun, angka ini belum dikurangi biaya bahan baku dan operasional lainnya, sehingga penting untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran secara rutin.
Dengan perencanaan modal dan arus kas yang matang, usaha kopi keliling menawarkan fleksibilitas lokasi dan perputaran uang yang cepat. Berbeda dengan investasi portofolio yang sensitif terhadap fluktuasi pasar, keuntungan dari bisnis ini cenderung lebih stabil, meskipun skalanya tentu tidak dapat disamakan dengan investasi finansial lainnya.