Persaingan di sektor telekomunikasi dan digital Indonesia memasuki babak baru seiring langkah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Indosat Tbk (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchison yang bersiap menghadapi transformasi jangka panjang. Kedua perusahaan ini sama-sama menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada akhir bulan ini untuk menetapkan arah strategis mereka.
Telkom Indonesia memutuskan untuk menunjuk Nanang Hendarno sebagai Direktur Utama, menggantikan Dian Siswarini. Kehadiran Nanang dipastikan akan melanjutkan agenda TLKM 30, yaitu strategi transformasi jangka menengah menuju 2030. Ambisinya adalah mengubah Telkom Group menjadi perusahaan digital telco kelas dunia yang mampu bersaing secara global.
Agenda TLKM 30 ini ditopang oleh empat pilar utama: operational and service excellence, streamlining, strategic holding, dan unlock value. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat transformasi Telkom dari Operating Holding menjadi Strategic Holding dengan model Holding Company-Operating Company (HoldCo-OpCo). Model ini berorientasi pada penciptaan nilai dan fokus pada sinergi berkelanjutan antar entitas.
Sejalan dengan itu, Telkom juga merampungkan aksi korporasi dengan pemisahan aset dan bisnis (spin-off) tahap 2 wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia). Dengan konsolidasi lebih dari 90% aset infrastruktur jaringan ke InfraNexia, perusahaan ini akan semakin kuat sebagai penyedia infrastruktur digital berbasis wholesale yang memiliki jaringan luas di seluruh Indonesia.
“Telkom memastikan transformasi yang tengah dijalankan dapat memberikan dampak nyata terhadap kinerja dan value creation, sekaligus menghadirkan kontribusi yang semakin besar bagi kemajuan ekosistem digital Indonesia,” kata Nanang dalam keterangan persnya.
Sementara itu, Indosat Ooredoo Hutchison tetap mempertahankan Vikram Sinha sebagai President Director. Vikram diberi mandat untuk memperkuat transformasi berbasis artificial intelligence (AI) dan mendorong pertumbuhan inklusif. Keputusan RUPSLB ini juga memperkuat dukungan bagi Indosat untuk menjalankan agenda strategis dan menjawab kebutuhan bisnis ke depan, sekaligus memperkuat keyakinan untuk melanjutkan transformasi jangka panjangnya.
Indosat akan terus memperluas realisasi strategi AI North Star, tidak hanya melalui pengembangan infrastruktur AI dan kapabilitas cloud, tetapi juga dengan membangun ekosistem AI yang terintegrasi secara menyeluruh. Mulai dari infrastruktur, cloud, platform, hingga solusi berbasis AI.
Corporate Secretary, Director dan Chief Legal and Regulatory Officer Indosat, Reski Damayanti, menyambut babak baru ini. “Berbekal fondasi yang telah kami bangun, kami siap memperluas implementasi strategi AI North Star, memperkuat customer love, serta terus mengembangkan kapabilitas untuk menciptakan masa depan digital yang lebih berkelanjutan dan inklusif,” ungkap Reski.
Jalur Pertumbuhan Telkom
Rampungnya spin-off InfraCo Tahap 2 menjadi milestone penting bagi Telkom. Skala ini mencakup sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optic, termasuk 26.000 km Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik, dengan total nilai transaksi mencapai sekitar Rp85,7 triliun.
Nanang menegaskan, InfraNexia diarahkan untuk mempertajam fokus bisnis serta meningkatkan produktivitas aset infrastruktur. Tujuannya adalah mendorong peningkatan kontribusi pasar eksternal terhadap pendapatan segmen B2B Infrastructure Telkom Group.
“Langkah ini menjadi bagian dari upaya Telkom Group membangun bisnis agar semakin fokus, kompetitif, dan mampu menciptakan nilai yang jauh lebih besar dari tiap aset strategis yang dimiliki,” ujar Nanang.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menambahkan bahwa konsolidasi memberikan ruang lebih luas bagi InfraNexia untuk meningkatkan utilisasi jaringan dan memperluas kolaborasi dalam ekosistem digital nasional. “Fokus kami bukan hanya memperluas pemanfaatan aset, tetapi memastikan infrastruktur yang kami miliki dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan lebih banyak mitra dan layanan digital, serta mendukung penguatan ekosistem dan kedaulatan digital Indonesia,” tambah Seno.
Mesin Pertumbuhan ISAT
Sementara itu, Indosat terus membangun fondasi infrastruktur yang diperlukan untuk mengubah kapasitas AI menjadi nilai nyata yang berkelanjutan. Zankore memperkuat kapabilitas komputasi Perseroan lewat kontrak jangka panjang dengan kapasitas sebesar 200 MW.
RAIA Grid, yang didukung oleh jaringan fiber sepanjang 86.000 kilometer, memperkuat konektivitas yang dibutuhkan untuk mendekatkan kapabilitas AI kepada pelaku usaha, pengembang, peneliti, dan masyarakat.
“Kedua mesin pertumbuhan ini menjadi bagian penting dari fondasi AI Factory dan ekosistem AI Indosat secara lebih luas, sekaligus mendukung ambisi Perseroan untuk bergerak dari sekadar membangun kapasitas AI menuju pemanfaatan AI yang mampu menciptakan nilai nyata,” ungkap Reski.
Indosat juga terus mendorong pertumbuhan AI yang didukung oleh infrastruktur digital yang semakin efisien dan bertanggung jawab. Salah satunya melalui uji coba AI-RAN, yang dirancang untuk menurunkan konsumsi energi hingga 20% dibandingkan jaringan konvensional.
“Melalui berbagai upaya tersebut, Indosat berkomitmen untuk memastikan pertumbuhan AI tidak berhenti pada peningkatan kapasitas teknologi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi lebih banyak peluang bagi masyarakat Indonesia serta turut memperkuat ekosistem digital dan AI yang semakin tangguh, inklusif, dan berkelanjutan,” tegas Reski.