Saham TLKM Anjlok, Analis UOB Kay Hian Tetap Rekomendasi Beli

JAKARTA – Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) terpantau mengalami penurunan signifikan hingga menembus level support krusial pada grafik harian dan H4 di harga Rp2.290. Level ini merupakan area penting yang belum pernah tertembus sejak Maret 2025.

Saat berita ini ditulis, saham TLKM tercatat melemah 1,75% ke level Rp2.250. Indikator Relative Strength Index (RSI) menunjukkan angka 17, menandakan kondisi jenuh jual. Sepanjang tahun berjalan, saham perusahaan pelat merah di sektor telekomunikasi ini telah terkoreksi sebesar 35%.

Meskipun demikian, sejumlah analis masih melihat prospek positif untuk saham TLKM, dengan proyeksi target harga yang menarik. Salah satu riset dari UOB Kay Hian Sekuritas menyoroti dua katalis utama yang dapat mendorong kinerja TLKM ke depan.

Katalis pertama adalah kelanjutan pemisahan aset infrastruktur jaringan ke dalam entitas baru bernama Telkom InfraCo (TIF) atau Infranexia. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Telkom yang digelar pada 30 September 2026 telah memberikan persetujuan untuk tahap kedua spin-off ini, dengan total nilai transaksi kumulatif diperkirakan mencapai Rp49,9 triliun.

“Transaksi ini merupakan langkah strategis Telkom untuk lebih mengonsolidasikan bisnis konektivitas fiber ke dalam TIF, sehingga skala operasionalnya dapat meningkat sebelum menjajaki potensi transaksi dengan mitra strategis,” ungkap UOB dalam risetnya, yang dikutip pada Kamis (1/10/2026).

UOB Kay Hian memperkirakan valuasi TIF dapat mencapai 8 hingga 9 kali EV/EBITDA, sebuah valuasi yang lebih premium dibandingkan TLKM saat ini yang hanya berada di kisaran 3,7 kali. Valuasi premium ini dapat tercapai apabila target pendapatan TIF sebesar Rp26 triliun dan EBITDA Rp9 triliun berhasil terealisasi.

Potensi Divestasi dan Target Harga

Selain itu, UOB Kay Hian juga mengidentifikasi potensi divestasi aset lain seperti data center, properti, dan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) oleh TLKM. Hasil dari divestasi ini diprediksi dapat menambah porsi dividen, sehingga dividend yield berpotensi mencapai 10,4%.

Namun, UOB Kay Hian menilai bahwa eksekusi rencana bisnis tersebut mungkin akan menghadapi tantangan, terutama terkait dengan perubahan jajaran direksi. Rencana penggunaan sebagian gedung Graha Merah Putih (GMP) oleh Badan Gizi Nasional (BGN) juga diprediksi akan memicu kebutuhan relokasi untuk sebagian unit operasional Telkom.

Terlepas dari potensi tantangan tersebut, UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi beli untuk saham TLKM dengan menetapkan target harga Rp3.300. Target harga ini mencerminkan potensi kenaikan sebesar 39% dari harga saham saat riset tersebut disusun, yaitu Rp2.370.

Tinggalkan komentar