JAKARTA – Harga saham PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) masih berada di bawah Rp50 dalam tiga hari terakhir, menandakan pencarian titik keseimbangan baru pasca-penyesuaian batas harga minimum perdagangan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi Rp1.
Analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, menyarankan investor untuk tidak panik. Menurutnya, pergerakan harga saham GOTO di bawah Rp50 sudah sesuai ekspektasi sejak perubahan aturan perdagangan diumumkan.
“Ketika batas Rp50 dibuka, pasar memang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan harga. Pergerakan dalam beberapa hari pertama ini tidak bisa langsung disimpulkan sebagai perubahan pada prospek bisnis GOTO,” ujar Aditya, Rabu (30/9/2026).
Aditya justru memandang penghapusan batas harga Rp50 sebagai perkembangan positif dalam jangka panjang. Dengan harga yang lebih bebas bergerak mengikuti penawaran dan permintaan, pasar memiliki kesempatan untuk membentuk harga secara lebih terbuka.
“Sekarang proses price discovery bisa terlihat lebih jelas. Investor dapat menilai pada harga berapa saham GOTO benar-benar diperdagangkan, lalu menggunakan informasi itu untuk mengambil keputusan investasi,” jelasnya.
Menurutnya, kejelasan harga menjadi krusial terutama bagi investor institusi yang hendak masuk ke suatu saham. Mereka perlu mengevaluasi harga masuk, risiko, dan potensi keluar dari investasi berdasarkan transaksi yang terekam di pasar.
Sebelumnya, ketika harga GOTO tertahan di Rp50, likuiditas di pasar reguler cenderung menyusut. Sebagian besar transaksi dilaporkan berlangsung di pasar negosiasi, sementara aktivitas perdagangan reguler tidak sepenuhnya mencerminkan minat beli dan jual yang sebenarnya.
Dengan terbukanya batas harga, Aditya memperkirakan transaksi berpeluang kembali meningkat di pasar reguler. Likuiditas yang lebih baik diharapkan dapat membantu saham GOTO diperdagangkan berdasarkan perkembangan kinerja perusahaan, setelah tekanan penyesuaian jangka pendek mereda.
“Perdagangan di pasar reguler berlangsung secara terbuka, berkesinambungan, dan lebih mudah diakses. Ini penting terutama bagi investor,” katanya.
Dia menambahkan, saham yang aktif diperdagangkan juga lebih mudah dipertimbangkan oleh kelompok investor yang lebih luas. Bagi sebagian investor institusi, kedalaman pasar dan kemampuan menjual kembali saham menjadi pertimbangan penting sebelum membangun posisi investasi.
Perkembangan Fundamental GOTO Tetap Solid
Di sisi lain, Aditya menilai harga saham GOTO saat ini belum sepenuhnya mencerminkan perkembangan fundamental perusahaan yang positif. GOTO telah berhasil mencatat laba bersih positif dalam dua kuartal berturut-turut, diiringi perbaikan pendapatan dan profitabilitas yang terus berlanjut.
“GOTO sedang membangun perusahaan untuk jangka panjang. Karena itu, investor perlu melihat kemampuan bisnisnya untuk terus tumbuh dan menghasilkan laba, selain mencermati pergerakan harga saham harian,” ucapnya.
Aditya mengakui volatilitas masih mungkin terjadi hingga pasar menemukan titik keseimbangan harga baru. Namun, jika likuiditas pasar reguler pulih dan perbaikan kinerja GOTO berlanjut, fundamental perusahaan berpeluang kembali menjadi faktor utama dalam penilaian sahamnya.
Sebelumnya, Head of Corporate Affairs GoTo, Audrey Petriny, menegaskan bahwa harga saham perseroan saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menguat. Pada kuartal II-2026, perseroan kembali mencetak laba bersih sebesar Rp252 miliar, menandai laba selama dua kuartal berturut-turut. Pendapatan bersih tercatat sebesar Rp5,7 triliun, dengan adjusted EBITDA mencapai lebih dari Rp1 triliun.
“Kami juga tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh sebesar Rp3,2-3,4 triliun. Kami tetap fokus memperkuat kinerja bisnis, yang kami yakini akan menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham,” kata Audrey.