Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan memiliki potensi untuk mencapai level 6.600 pada akhir tahun 2026. Namun, perjalanan menuju target tersebut diprediksi masih akan diwarnai berbagai tantangan. Jika tekanan terhadap nilai tukar rupiah, imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS), harga minyak, dan aksi jual oleh investor asing kembali meningkat, IHSG berisiko terperosok ke area 5.800 hingga 6.000.
Analis sekaligus Founder Stocknow, Hendra Wardana, menyatakan bahwa IHSG berpeluang menuju area 6.300–6.600 pada akhir tahun apabila kondisi pasar mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Dalam skenario yang lebih optimis, indeks bahkan berpotensi menguji level 6.700–6.800.
“Dalam skenario yang lebih positif, apabila terjadi pembalikan arus modal asing dan sentimen global membaik, IHSG bisa menguji 6.700–6.800,” ujar Hendra, Minggu (4/10/2026).
Menurut Hendra, peluang penguatan IHSG sangat bergantung pada kemampuan pasar untuk membangun kembali kepercayaan investor. Stabilnya nilai tukar rupiah dan meredanya tekanan jual dari investor asing menjadi faktor krusial agar IHSG dapat membentuk pijakan baru yang kokoh.
Sebaliknya, potensi penurunan IHSG masih cukup besar. Hendra memperkirakan indeks dapat kembali menguji level 5.800–6.000 apabila rupiah menembus dan bertahan di atas Rp 18.000 per dolar AS, yield obligasi AS tetap tinggi, harga minyak kembali meningkat, serta investor asing terus melakukan aksi jual secara agresif.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Hendra belum melihat adanya fondasi yang cukup kuat bagi IHSG untuk langsung kembali ke level tertinggi sebelumnya pada akhir tahun ini.
“Fokus utama saat ini adalah membangun kembali support dan kepercayaan pasar terlebih dahulu,” tegasnya.
Tiga Sinyal Kunci Pemulihan IHSG
Hendra menguraikan bahwa investor perlu mencermati tiga indikator utama untuk memantau terbentuknya tren pemulihan IHSG. Ketiga indikator tersebut adalah pergerakan nilai tukar rupiah, yield obligasi US Treasury, dan arus dana asing.
Jika rupiah mampu stabil di bawah Rp 18.000 per dolar AS, yield obligasi AS mulai menunjukkan tren penurunan, dan aksi jual bersih (net sell) asing semakin mengecil, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal awal kembalinya minat investor terhadap aset berisiko.
Sebaliknya, pelemahan kembali pada nilai tukar rupiah, yield obligasi AS yang bertahan tinggi, serta peningkatan aksi jual oleh investor asing berpotensi memperpanjang tekanan terhadap IHSG, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Hendra juga mengingatkan para investor agar tidak terburu-buru dalam mengejar saham yang telah mengalami penurunan tajam. Meskipun koreksi memang dapat membuka peluang untuk melakukan ‘bargain hunting’ atau membeli saham dengan harga murah, namun harga yang sudah turun tidak secara otomatis berarti saham tersebut dalam kondisi undervalued.
“Investor perlu melihat pertumbuhan laba, arus kas, utang, valuasi, likuiditas saham, serta potensi aksi korporasi,” pungkasnya.