JAKARTA – PT Lentera Karbon Indonesia (Lume Carbon) dan PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP) menjajaki kerja sama strategis untuk mengolah Fly Ash and Bottom Ash (FABA) dari operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Sumatera Selatan. Langkah ini merupakan upaya mendukung ketahanan pangan nasional dan percepatan ekonomi sirkular.
Penandatanganan Nota Kesepahaman dilakukan oleh CEO Lume Carbon Rio Fafen Ciptaswara dan Direktur Niaga HBAP Hartono pada 30 September 2026 di Jakarta Selatan. Kolaborasi ini bertujuan mengubah FABA menjadi produk bernilai tambah, seperti pupuk dan pembenah tanah, yang krusial bagi sektor pertanian.
Lume Carbon berpotensi mengelola FABA dari fasilitas operasional PLTU milik HBAP dengan volume diperkirakan mencapai 10.000 metrik ton per bulan. Perusahaan ini menyatakan kesiapannya mengalokasikan investasi untuk pembangunan fasilitas pengolahan FABA.
“Lume Carbon berkomitmen untuk turut memenuhi kebutuhan pupuk di masyarakat, sekaligus mendukung ketahanan pangan Indonesia. Maka nantinya, akan kita coba investasikan ke dalam pabrik dan proses pengolahan untuk menghasilkan pupuk. Itu adalah salah satu bentuk komitmen Lume Carbon,” ujar CEO Lume Carbon, Rio Fafen Ciptaswara, dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (4/10/2026).
Direktur Niaga HBAP, Hartono, menegaskan bahwa perseroan memandang FABA bukan sekadar limbah operasional pembangkit, melainkan sumber daya dengan potensi ekonomi dan keberlanjutan. “HBAP tidak hanya semata-mata menjadi penghasil FABA, tetapi juga ikut mendorong agar FABA dapat dimanfaatkan secara produktif dan memberikan nilai tambah. Salah satunya melalui pengembangan FABA menjadi penggembur tanah dan pupuk untuk mendukung sektor pertanian, sekaligus menciptakan manfaat bagi masyarakat,” ujar Hartono.
Potensi Pasokan dan Kebutuhan Pupuk
Peluang pemanfaatan ini didukung oleh ketersediaan pasokan FABA yang signifikan. Berdasarkan data HBAP, PLTU Sumsel-8 menghasilkan sekitar 132,4 ribu ton FABA pada 2025, terdiri dari 114,6 ribu ton fly ash dan 17,8 ribu ton bottom ash. HBAP memperkirakan potensi produksi FABA ke depan berada pada rentang 131–260 ribu ton per tahun.
Sementara itu, kebutuhan sektor pertanian terhadap nutrisi tanah masih sangat tinggi. Ketua Yayasan Sekolah Tani Indonesia Fatoni Saputra mengungkapkan bahwa pada 2025, permintaan pupuk dari kelompok tani tercatat mencapai 14,5 juta ton. Namun, alokasi pupuk bersubsidi baru mencakup 9,55 juta ton.
Kesenjangan pasokan ini membuka peluang besar bagi pemanfaatan FABA. Kerja sama Lume Carbon dan HBAP akan mengedepankan aspek teknis, regulasi keamanan, standar kualitas, serta hasil uji laboratorium untuk memastikan kepatuhan dan mutu produk. Implementasi kerja sama ini akan dilakukan secara bertahap guna memberikan solusi konkret bagi petani dan memperkuat ketahanan pangan nasional.