Empat Saham Prospektif dengan Target Menggiurkan hingga 2026

JAKARTA – Di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham, sejumlah emiten justru dinilai memiliki peluang untuk menguat hingga akhir 2026. Founder Stocknow Hendra Wardana merekomendasikan empat saham, yaitu PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Timah Tbk (TINS), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), dan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG).

Keempat saham ini memiliki katalis yang beragam, mulai dari eksposur terhadap komoditas, prospek kawasan industri, hingga potensi kenaikan nilai aset perusahaan investasi. Strategi investasi yang disarankan pun bervariasi, mulai dari speculative buy hingga buy on weakness, yang disesuaikan dengan karakter masing-masing saham.

Untuk ANTM, Hendra merekomendasikan strategi speculative buy dengan target harga Rp 3.350 per saham. Katalis utama saham ini berasal dari eksposur terhadap emas yang masih menarik sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global. Selain itu, prospek bisnis nikel dan hilirisasi mineral juga menjadi penopang daya tarik saham ini.

“ANTM memiliki katalis dari emas yang masih menjadi aset lindung nilai ketika ketidakpastian global tinggi, sekaligus memiliki prospek dari bisnis nikel dan hilirisasi,” ujar Hendra, Minggu (4/10/2026). Meskipun demikian, investor perlu memperhitungkan volatilitas harga komoditas dan tidak mengejar harga saham secara agresif.

Saham berikutnya adalah TINS, yang juga direkomendasikan dengan strategi speculative buy dan target harga Rp 4.900 per saham. Prospek TINS, menurut Hendra, akan sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga timah global, volume produksi, serta kemampuan perseroan memperbaiki kinerja operasional.

“Jika harga timah tetap kuat dan perbaikan fundamental berlanjut, ruang rerating saham TINS masih terbuka. Namun, volatilitas harga saham tetap menjadi risiko yang perlu diperhatikan investor,” papar Hendra.

Sementara itu, SSIA dinilai menarik untuk strategi buy on weakness pada area Rp 1.620 dengan target Rp 1.800. Hendra melihat prospek bisnis kawasan industri dan meningkatnya kebutuhan investasi terkait pembangunan serta aktivitas industri sebagai katalis bagi saham tersebut.

“Ketika sentimen pasar mulai pulih, saham dengan katalis pertumbuhan seperti SSIA berpotensi mendapatkan perhatian kembali,” jelasnya.

Untuk SRTG, strategi yang disarankan adalah buy on weakness di kisaran Rp 1.680 – 1.700 dengan target harga Rp 2.000. Karakter SRTG sebagai perusahaan investasi memberikan eksposur terhadap sejumlah aset dan perusahaan portofolio. Potensi kenaikan nilai aset dapat menjadi katalis apabila pasar mulai melakukan rerating.

“Karena itu, SRTG dinilai lebih cocok dikoleksi secara bertahap ketika terjadi pelemahan untuk memperoleh margin of safety,” papar Hendra.

Hendra menekankan, tekanan yang terjadi di IHSG memang dapat menciptakan peluang, tetapi investor tetap perlu selektif dalam memilih saham. Penurunan harga yang dalam tidak otomatis membuat suatu saham menjadi murah secara fundamental. Pertumbuhan laba, arus kas, utang, valuasi, likuiditas saham, serta potensi aksi korporasi perlu menjadi pertimbangan sebelum investor mengambil posisi.

“Yang paling penting sekarang bukan mengejar saham yang turun paling dalam, tetapi mencari saham yang memiliki fundamental kuat dan katalis yang jelas,” pungkasnya.

Tinggalkan komentar