IPB University dan Agrinas Palma Perkuat Pengembangan Bioetanol Multifeedstock

Pengembangan bioetanol yang memanfaatkan beragam bahan baku seperti singkong, sorgum, dan jagung kini memasuki fase yang lebih konkret. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fasilitas produksi, tetapi juga menjamin ketersediaan bahan baku, penerapan teknologi yang sesuai, integrasi rantai pasok, hingga memastikan produk akhir memiliki daya saing komersial.

Pokok bahasan tersebut menjadi inti dari Focus Group Discussion (FGD) yang bertema “Produksi, Pengolahan dan Kelayakan Ekonomi Industri Bioetanol Berbahan Jagung, Sorgum, dan Singkong”. Acara ini diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) University bersama PT Agrinas Palma Nusantara, pada Sabtu (3/10) di Taman Kencana, Bogor. Forum ini juga dihadiri Managing Director Teknologi Advancement Danantara Dwi Susanto dan merupakan tindak lanjut dari kerja sama Agrinas Palma dengan Pertamina.

Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani, menekankan pentingnya pengembangan bioetanol sebagai sebuah ekosistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Agrinas Palma telah melakukan pemetaan lahan dan merancang peta jalan pengembangan multifeedstock. Targetnya, pada tahun 2029, pengembangan lahan singkong, sorgum, dan jagung dapat mencapai 1 juta hektare, dengan kapasitas produksi bioetanol minimal 5 juta kiloliter per tahun.

“Target ini harus didukung oleh kepastian bahan baku, kesesuaian lahan, produktivitas yang tinggi, teknologi yang memadai, keekonomian yang baik, serta partisipasi aktif masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan multifeedstock dan integrasi hulu-hilir menjadi sangat krusial,” ujar Abdul Ghani.

Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) IPB University, Prof. Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr., menambahkan bahwa kolaborasi lintas disiplin ilmu sangat diperlukan agar pengembangan bioetanol tidak hanya berhenti pada konsep. Faperta memiliki berbagai inovasi dan keahlian yang dapat disinergikan untuk mendukung pengembangan bioetanol, mulai dari aspek budidaya dan peningkatan produktivitas bahan baku, hingga teknologi, ekonomi, dan model pengembangan yang menghasilkan keluaran nyata dan terukur.

“Pengembangan bioetanol memerlukan kontribusi dari berbagai disiplin ilmu, dan keberhasilannya sangat bergantung pada detail. Oleh karena itu, aspek on-farm maupun pengolahan harus dipetakan, dikuasai, dan dikelola dengan cermat. Faperta siap berkolaborasi melalui berbagai inovasinya untuk mendukung program ini agar dapat berkembang secara produktif dan berkelanjutan,” jelas Suryo.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor I IPB, Prof. drh. Deni Noviana, PhD, DAiCVIM, menyatakan bahwa kebijakan strategis harus dibangun berdasarkan landasan ilmiah yang kuat dan kompetensi lintas fakultas. Kajian bioetanol tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi karena melibatkan aspek pertanian, teknologi, ekonomi, lingkungan, dan sosial.

“Kami berharap forum ini dapat menghasilkan kajian berbasis data yang akurat dan rekomendasi yang jelas, serta bagaimana rekomendasi tersebut dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah,” ucap Deni.

FGD tersebut menghasilkan delapan poin kesepakatan penting. Pertama, bioetanol merupakan agenda strategis nasional untuk mengurangi impor energi dan mendukung target Net Zero Emission 2060. Kedua, keberlanjutan pasokan bahan baku menjadi kunci utama, meliputi kuantitas, kualitas, kontinuitas, varietas unggul, dan waktu panen yang tepat. Ketiga, lokus pengembangan bioetanol perlu dibedakan dari lokus produksi pangan untuk menghindari persaingan harga. Keempat, kesesuaian komoditas dengan lokasi harus divalidasi melalui uji lapangan, mengingat setiap tanaman memiliki kebutuhan lingkungan dan teknologi budidaya yang berbeda. Kelima, desain industri harus mengintegrasikan aspek on-farm dan off-farm sebagai satu kesatuan rantai nilai.

Selanjutnya, keenam, kawasan industri perlu membangun kemandirian teknologi pendukung, termasuk ketersediaan enzim, untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan eksternal. Ketujuh, pengembangan bioetanol diarahkan agar kompetitif dan tidak bergantung pada subsidi. Kedelapan, IPB siap menindaklanjuti penyusunan Feasibility Study (FS) terintegrasi, termasuk pendampingan lapangan pada aspek on-farm dan off-farm.

Kemitraan masyarakat juga ditempatkan sebagai elemen krusial dalam desain pengembangan. Salah satu opsi yang dibahas adalah skema kemitraan dengan porsi sekitar 10–20 persen dari produksi, termasuk potensi integrasi dengan sektor peternakan dan penyediaan hijauan pakan ternak.

Dengan proyeksi kebutuhan bioetanol sekitar 7 juta kiloliter untuk mendukung implementasi E20, langkah selanjutnya bukan sekadar meningkatkan kapasitas produksi. Lebih penting lagi adalah memastikan seluruh fondasi proyek terbukti secara ilmiah dan ekonomis. Bagi Agrinas Palma, forum ini menegaskan bahwa transisi energi tidak hanya bicara tentang sumber energi, tetapi juga melibatkan petani, lahan, teknologi, industri, dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.

Tinggalkan komentar