Industri Kecantikan Tumbuh, Kebutuhan Maklon dan Regulasi Makin Mendesak

Pertumbuhan pesat industri kecantikan kini tidak hanya menuntut pelaku usaha untuk fokus pada inovasi formulasi produk, tetapi juga kesiapan produksi, kepatuhan terhadap regulasi, dan strategi distribusi yang matang. Kondisi ini menjadikan model bisnis manufaktur kontrak atau maklon semakin relevan, terutama bagi para pengusaha yang ingin mengembangkan merek tanpa harus membangun fasilitas produksi sendiri.

PT Medkes Global Prima melihat celah ini sebagai peluang untuk bertransformasi dari sekadar produsen menjadi mitra pengembangan produk yang komprehensif. Perusahaan menawarkan layanan mulai dari formulasi, proses produksi, hingga pendampingan dalam aspek legalitas.

Direktur Operasional PT Medkes Global Prima, Shella Huliselan, menekankan pentingnya mempertimbangkan kesiapan regulasi sejak tahap awal pengembangan produk. “Ketika ingin membangun sebuah brand, pemilik brand tidak hanya perlu memikirkan produknya mau seperti apa, tetapi juga bagaimana produk tersebut dapat memenuhi persyaratan yang berlaku,” ujarnya dalam panel Unlocking Premium Brand Success di Cosmobeauté Indonesia 2026, ICE BSD, Tangerang.

Kebutuhan regulasi ini mencakup pendaftaran hak kekayaan intelektual, notifikasi BPOM, serta sertifikasi yang sesuai dengan karakteristik produk. Dari sisi manufaktur, Medkes telah menyiapkan tiga fasilitas produksi dengan kategori berbeda: kosmetik, obat, dan obat tradisional. Masing-masing fasilitas beroperasi sesuai standar Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB), Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), dan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB).

Saat ini, fasilitas produksi untuk obat dan obat tradisional masih dalam tahap akhir penyempurnaan dan ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027. Strategi ini mencerminkan pergeseran kebutuhan industri yang tidak hanya terbatas pada produk kecantikan, tetapi juga mulai terhubung dengan sektor dermatologi, obat-obatan, dan produk kesehatan berbasis kebutuhan klinis.

Pengembangan bisnis juga diperluas melalui kolaborasi dengan Beauty World Indonesia, yang memiliki rekam jejak kuat di bidang distribusi, ritel, dan pengembangan pasar. Model kolaborasi ini memastikan proses pengembangan produk tidak berhenti pada tahap produksi, melainkan berlanjut hingga strategi distribusi dan penjualan.

Partner Beauty World Indonesia, dr. Samuel Stemi, mengungkapkan bahwa permintaan pengembangan produk kini juga datang dari kalangan profesional kesehatan seperti dokter dan klinik. Menurutnya, pengalaman klinis menjadi sumber ide produk yang berharga, namun pengembangan merek tetap memerlukan dukungan dari sisi formulasi, produksi, legalitas, hingga strategi bisnis.

“Ketika kita punya ide untuk membuat satu brand, kita tentu mencari produsen yang tidak hanya bisa memproduksi skincare, tetapi juga bisa mendukung dari sisi perencanaan formulasi dan aspek lainnya,” katanya. Ia menambahkan bahwa perubahan perilaku konsumen juga menjadi faktor penting dalam strategi bisnis sektor kecantikan.

Sementara itu, General Manager Sales & Marketing B2C Beauty World Indonesia, Irine, menjelaskan bahwa produk yang telah siap secara teknis dan regulasi tetap membutuhkan strategi distribusi yang tepat agar dapat menjangkau konsumen secara efektif. “Brand yang sudah siap secara produk tetap perlu memiliki strategi untuk masuk ke pasar. Karena itu, pengalaman di sisi distribusi, ritel, dan pemahaman terhadap perilaku konsumen menjadi pelengkap dari kemampuan produksi,” ucapnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, kanal digital semakin mendominasi pola pembelian produk kecantikan. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu mengintegrasikan kesiapan produksi, regulasi, distribusi, serta pemahaman mendalam terhadap perubahan perilaku konsumen.

Bagi perusahaan maklon, tren ini membuka peluang untuk mengembangkan model layanan yang lebih terintegrasi. Namun, persaingan di pasar maklon kini semakin bergantung pada kemampuan menjaga standar produksi, kepatuhan regulasi, kapasitas manufaktur, dan kecepatan membawa produk ke pasar.

Dengan demikian, pertumbuhan industri kecantikan di masa depan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya produk baru yang diluncurkan, tetapi juga oleh kesiapan ekosistem pendukungnya, mulai dari riset dan formulasi hingga produksi, legalitas, dan distribusi.

Tinggalkan komentar