Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami stagnasi pada sesi pertama perdagangan Senin, 5 Oktober 2026, meskipun berhasil bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 2,10 poin atau 0,03% ke level 6.038.
Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah, imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang masih tinggi, serta harga minyak dunia menjadi sejumlah sentimen yang menahan laju penguatan IHSG.
Menurut Pilarmas, pergerakan nilai tukar rupiah menjadi perhatian utama investor karena berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap kerentanan eksternal Indonesia, terutama saat imbal hasil obligasi AS masih berada di level yang tinggi.
Selain isu rupiah, Pilarmas menambahkan bahwa imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tetap tinggi juga membuat investor cenderung berhati-hati dalam mengakumulasi aset berisiko, termasuk saham. Meskipun imbal hasil obligasi AS 10 tahun telah turun dari level tertingginya menjadi sekitar 5,25% dan tenor 30 tahun merosot ke arah 5,6%, level tersebut masih tergolong tinggi.
Faktor lain yang turut menjadi perhatian pasar adalah harga minyak dunia yang masih bertahan di level tinggi. Kondisi ini berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, terutama di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlanjut di Timur Tengah.
Pilarmas menekankan bahwa risiko inflasi menjadi semakin penting bagi pasar karena dapat membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter. Di dalam negeri, inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 3,28% secara tahunan, mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia (BI) sebesar 3,5%.
“Kondisi tersebut membuat investor mencermati ruang kebijakan moneter BI di tengah tekanan nilai tukar dan sentimen eksternal. Meski Indonesia mencatat surplus perdagangan pada Agustus 2026, kekhawatiran terhadap kerentanan eksternal masih membayangi pergerakan pasar saham,” jelas Pilarmas.
Bursa Asia Dapat Angin Segar
Di tengah berbagai sentimen yang menahan IHSG, pasar saham Asia justru mendapatkan angin segar dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan.
Amerika Serikat hanya berhasil menambah 29.000 lapangan pekerjaan pada September, angka ini jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 90.000. Tingkat pengangguran juga dilaporkan naik menjadi 4,2%, sementara pertumbuhan upah tahunan secara tak terduga melambat menjadi 3%.
Data ini dinilai dapat mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk memperketat kebijakan moneternya. Pasar pun melihat peluang The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga pada pertemuan bulan ini.
“Kondisi tersebut tentunya mengurangi tekanan pada Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut. Sehingga kemungkinan bahwa Fed akan mempertahankan kebijakan tidak berubah bulan ini,” kata Pilarmas.
Namun demikian, Pilarmas mengingatkan investor untuk tetap mencermati imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak dunia yang tetap tinggi. Kedua faktor tersebut berpotensi menjaga tekanan inflasi dan meningkatkan volatilitas pasar.
Di tengah pergerakan IHSG yang terbatas, sejumlah saham mencatat kenaikan signifikan pada sesi pertama perdagangan. Saham AKKU, PPRI, BLTZ, IFSH, dan PGLI menjadi saham dengan kenaikan terbesar. Sebaliknya, saham FORU, SONA, JAWA, TIFA, dan ARTA berada di jajaran saham dengan penurunan terbesar.
Untuk perdagangan berikutnya, Pilarmas merekomendasikan beli untuk saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Saham MDKA memiliki level support dan resistance pada 2.780-3.130.