Bank sentral memandang emas akan terus menjadi aset cadangan strategis seiring kekhawatiran terhadap lonjakan utang dan ketidakstabilan geopolitik. Meskipun harga emas telah menurun sekitar 4% seiring melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah AS ke level tertinggi, emas tetap tertopang dengan baik oleh aksi beli bank sentral dan permintaan sebagai aset safe haven, sehingga bertahan di atas level US$ 4.000 per troy ounce.
“Emas adalah aset safe haven, bahkan mungkin aset safe haven yang utama, sebagaimana terbukti dari kinerjanya sepanjang waktu dan dalam berbagai krisis,” ujar Sergio Nicoletti Altimari, Deputi Gubernur Bank of Italy, dalam konferensi tahunan London Bullion Market Association di Sorrento, Italia. “Peran ini sangat relevan saat ini di tengah lingkungan dengan risiko geopolitik yang tinggi dan kekhawatiran mengenai fragmentasi ekonomi,” tuturnya.
Presiden bank sentral Jerman Bundesbank, Joachim Nagel, mengatakan bahwa kenaikan imbal hasil meningkatkan daya tarik relatif obligasi di mata para pengelola aset cadangan. Kendati demikian, minat diversifikasi ke emas tetap kuat mengingat berlanjutnya tekanan geopolitik dan risiko kredit yang terkait dengan tingkat utang yang tinggi.
Meskipun permintaan emas dari bank sentral diperkirakan akan melambat sebesar 15% secara tahunan menjadi 720 metrik ton pada tahun 2026, angka tersebut diproyeksikan tetap berada di atas tingkat sebelum tahun 2022. Altimari menyoroti perubahan struktural pasar emas sejak tahun 2022, yang didorong oleh pembelian emas oleh bank sentral di negara-negara berkembang. Ia menyebut, permintaan juga didukung oleh kekhawatiran mengenai tingginya utang publik dan ekspansi fiskal, yang melemahkan hubungan terbalik tradisional antara emas dan imbal hasil obligasi riil.
“Faktor-faktor ini terlihat sangat jelas pada tahun lalu dan awal tahun ini, ketika hubungan tradisional antara emas dan imbal hasil riil melemah secara signifikan,” katanya.
Wakil Presiden Shanghai Gold Exchange, Zeng Hui menyoroti perubahan mendalam dalam struktur permintaan emas serta kerangka penetapan harganya dalam beberapa tahun terakhir. Di China, negara konsumen emas terbesar, pasar semakin didorong oleh permintaan investasi dan investor institusional, dengan pembelian emas batangan dan koin melampaui konsumsi perhiasan untuk pertama kalinya pada tahun 2025, paparnya.