JAKARTA – Analis memproyeksikan permintaan emas di pasar Tiongkok akan mengalami peningkatan signifikan di sisa tahun 2026, sejalan dengan tren penurunan harga logam mulia tersebut. Proyeksi ini mengindikasikan pembelian emas oleh China berpotensi naik dua kali lipat dari tahun sebelumnya, bahkan bisa mencapai rekor tertinggi dalam dekade 2020-an.
Para analis dari Heraeus mencatat bahwa volume impor emas Tiongkok pada 2026 telah melampaui total impor sepanjang tahun 2025. Pada bulan Agustus 2026, Tiongkok mengimpor 142 ton emas, menjadikan total impor selama delapan bulan pertama tahun ini mencapai 1.141 ton. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 72% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai 663 ton, dan telah melampaui total impor tahun 2025 yang sebesar 940 ton.
Arus masuk emas yang kuat ini terjadi meskipun harga emas telah mencapai rekor tertinggi. Fenomena ini mencerminkan adanya permintaan investasi yang terus berlanjut, sementara permintaan untuk perhiasan emas di Tiongkok dilaporkan masih relatif lemah. Penting untuk dicatat bahwa impor non-moneter ini terpisah dari pembelian yang dilakukan oleh People’s Bank of China, yang tercatat menambah cadangan resminya sebanyak 20 ton pada Agustus 2026.
Para analis Heraeus menambahkan, jika laju impor emas di Tiongkok terus berlanjut hingga akhir 2026, totalnya diperkirakan akan mencapai sekitar 1.700 ton. Jumlah tersebut akan menjadi angka tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Lonjakan impor emas ini juga terjadi ketika arus dana ke exchange-traded fund (ETF) emas global secara umum relatif datar hingga Agustus 2026. Berbeda dengan tren global, ETF emas di Tiongkok justru mencatat tambahan sekitar 44 ton sepanjang 2026. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 18% dibandingkan posisi awal tahun, berdasarkan data dari Shanghai Gold Exchange.