Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan pada pembukaan perdagangan Selasa (29/9/2026). Penurunan ini dipicu oleh serangkaian tekanan dari pasar global maupun domestik. Empat faktor utama yang mendorong investor untuk mengurangi aktivitas di pasar saham adalah kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, lonjakan harga minyak, pelemahan nilai tukar rupiah, serta ketidakpastian geopolitik.
Saat berita ini ditulis, IHSG tercatat jatuh 1,24% ke level 6.069,91.
Menurut Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta, kombinasi suku bunga tinggi, inflasi yang terus berlanjut, kenaikan harga minyak, dan isu geopolitik menjadi sentimen utama yang membebani pergerakan IHSG.
Tekanan terbesar berasal dari pasar obligasi Amerika Serikat. Imbal hasil Treasury AS untuk tenor 10 tahun melonjak 1,08% mencapai 5,243%, level tertinggi dalam 19 tahun terakhir. Kenaikan yield ini terjadi setelah data manufaktur dan jasa AS menunjukkan penguatan, yang memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih memiliki peluang untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan 28 Oktober 2026. Peluang kenaikan Fed Rate diperkirakan mencapai sekitar 70,3%.
Imbal hasil obligasi yang tinggi membuat aset berpendapatan tetap menjadi lebih menarik, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap saham, terutama saham-saham growth yang sensitif terhadap kenaikan biaya pendanaan.
Tekanan kedua datang dari pasar energi. Harga minyak dunia melonjak setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian bersyarat dari Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari. Gangguan pada lalu lintas kapal tanker di kawasan Timur Tengah menyebabkan pasokan energi global tetap terbatas.
“Meskipun ekspor minyak Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) mulai pulih sebagian, pasokan global dinilai belum mampu mengimbangi tingginya permintaan,” jelas Nafan. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,95% menjadi US$93,29 per barel. Lonjakan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi dan berpotensi mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Rupiah Turut Tertekan
Dari dalam negeri, Nafan menambahkan, pelemahan rupiah turut membebani pasar saham. Rupiah terdepresiasi 0,50% menjadi Rp17.970 per dolar AS. Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2026. Keputusan ini, dengan tetap mencermati stabilitas nilai tukar, membuat ruang untuk pelonggaran moneter agresif menjadi lebih terbatas.
“Investor pun cenderung lebih selektif terhadap saham yang sensitif terhadap suku bunga dan pergerakan nilai tukar,” papar Nafan.
Selain tekanan global dan pelemahan rupiah, pasar domestik juga masih dalam fase penyesuaian terhadap penerapan harga minimum Rp1 dan perubahan mekanisme FCA atau Papan Pemantauan Khusus. Penurunan IHSG hari ini yang bertepatan dengan pemberlakuan kebijakan tersebut membuat sebagian investor masih melakukan price discovery dan reposisi portofolio, terutama pada saham yang sebelumnya berada di harga Rp 50 atau masuk kategori FCA.
Namun, Nafan menilai pelemahan IHSG tidak tepat jika hanya dikaitkan dengan kebijakan harga minimum Rp1. Tekanan juga datang secara bersamaan dari pergerakan rupiah, yield global, dan harga minyak.
Memasuki akhir kuartal III-2026, perhatian investor mulai bergeser ke musim laporan keuangan kuartal III-2026, khususnya sektor perbankan dan konsumer. Kinerja yang sesuai atau melampaui ekspektasi pasar berpotensi menahan laju koreksi IHSG. Selain itu, hasil laporan keuangan dapat menjadi katalis bagi aksi pembalikan arah atau technical rebound setelah tekanan yang terjadi belakangan.