Waspadai Kenaikan Harga Beras dan Pangan Jelang Akhir Tahun

Badan Pusat Statistik (BPS) memperingatkan adanya potensi inflasi yang cukup tinggi pada komoditas beras di bulan Desember 2026. Peringatan ini disampaikan jika tren kenaikan harga pangan yang terus-menerus tersebut tidak segera diatasi. Sejak Januari hingga September 2026, rerata harga beras di tingkat penggilingan, grosir, dan eceran telah menunjukkan tren peningkatan, meskipun secara bulanan peningkatannya relatif kecil.

Menanggapi hal tersebut, pemerintah dilaporkan tengah mengintensifkan intervensi harga beras, terutama untuk jenis premium di zona II dan III. Intervensi ini dilakukan karena harga beras premium di wilayah tersebut sudah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) hingga 5%. Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyatakan bahwa beras telah memberikan andil terhadap inflasi pada bulan September 2026. Hingga minggu pertama Oktober 2026, tercatat masih ada 116 kabupaten/kota di Indonesia yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) untuk komoditas beras. Rerata harga beras medium secara umum naik 0,16% dan premium meningkat 0,13% pada periode tersebut dibandingkan bulan September 2026.

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya fenomena El Nino yang kuat dan diprediksi akan bertahan hingga awal tahun 2027. Kondisi ini berpotensi menunda datangnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. “Karena itu, beras perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Grafik fenomena El Nino semakin menurun, tetapi menurut BMKG diperkirakan terjadi hingga awal 2027. Beberapa provinsi sekarang sudah hujan, tapi sebenarnya cukup banyak provinsi yang masih belum hujan,” ungkap Ateng saat Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Jakarta, Senin (05/10/2026).

BPS melaporkan bahwa rerata harga beras di tingkat penggilingan mencapai Rp14.329 per kilogram (kg), yang berarti naik 0,81% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan meningkat 6,04% secara tahunan (year-on-year/yoy). Di tingkat grosir, harga berada di Rp14.992 per kg (naik 0,61% mtm dan naik 4,93% yoy), sementara di tingkat eceran mencapai Rp15.769 per kg (naik 0,8% mtm dan naik 3,73% yoy). Ateng menjelaskan bahwa meskipun kenaikan harga di setiap tingkatan terlihat kecil, namun tren kenaikan ini telah berlangsung secara terus-menerus.

“Kelihatannya naiknya kecil, tapi ada yang perlu kita jaga. Kalau kenaikannya terus menerus, di Desember 2026 ada potensi low base effect. Artinya, nanti di Desember 2026 jika harganya terus naik dari Desember 2025 yang hanya Rp15 ribu per kg maka akan terjadi inflasi yang tergolong cukup tinggi,” ujar Ateng. Ia menambahkan, jika harga beras pada Desember 2025 mengalami penurunan, maka pola sebaliknya akan terjadi di Desember 2026. “Jadi, perlu diwaspadai adanya low base effect karena pengaruh harga gap di Desember 2025 terhadap nanti Desember 2026,” jelasnya.

Dalam rapat koordinasi yang sama, Deputi Bidang Kerawanan Pangan dan Gizi Badan Pangan Nasional (Bapanas) Aulia Sofyan menyoroti bahwa beras premium di zona II dan III pada minggu kelima September 2026 memerlukan perhatian dan intervensi khusus. Harga beras premium di zona II telah mencapai 8,25% di atas HET, sementara di zona III mencapai 15,39% di atas HET. Dibandingkan dengan minggu keempat September 2026, terjadi kenaikan 0,13% dan penurunan 0,06% dari HET. Untuk harga beras premium di zona I, kondisinya masuk kategori waspada karena berada 3,54% di atas HET.

Oleh karena itu, intervensi harga beras difokuskan pada zona II dan III. “Intervensi harga beras diarahkan secara terukur melalui Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) oleh Perum Bulog,” jelas Aulia. Kadiv Perencanaan Operasi dan Analisa Harga Pasar Perum Bulog, Muhammad Wawan Hidayanto, menambahkan bahwa Bulog telah menyelesaikan distribusi beras SPHP sebanyak 828 ribu ton. “Saat ini, kami fokus menyalurkan tambahan 74 ribu ton sambil menunggu penugasan 1 juta ton SPHP hingga Maret 2027,” katanya.

Harga Pakan Ayam Turut Menjadi Perhatian

Selain mengingatkan potensi inflasi tinggi pada beras, BPS juga melaporkan adanya kenaikan IPH untuk telur dan daging ayam ras. Hingga minggu pertama Oktober 2026, sebanyak 115 kabupaten/kota mengalami kenaikan IPH telur, dan 97 kabupaten/kota mengalami kenaikan IPH daging ayam ras. Menurut Direktur Hilirisasi Peternakan dan Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), Makmun, salah satu penyebab kenaikan IPH ini berkaitan dengan peningkatan harga pakan.

“Kalau harga daging ayam di produsen sudah turun, di bawah harga acuan. Di konsumen, di beberapa daerah, ada yang di atas harga acuan. Ini karena saat ini harga bahan baku pakan, baik dari dalam negeri maupun impor, jelang akhir tahun biasanya agak turun produksinya (sehingga ada kecenderungan harganya naik),” kata Makmun. Ia mencontohkan harga jagung saat ini menyentuh Rp7.000 per kg. Hal ini disebabkan oleh daerah-daerah sentra produksi seperti Nusa Tenggara Barat (NTB), Gorontalo, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tidak mengalami panen sehingga stoknya menurun. Di sisi lain, bahan baku pakan ternak saat ini masih mengandalkan impor sebesar 30-40%, yang dapat terpengaruh oleh penguatan Dolar Amerika Serikat.

Dalam upaya mengurangi beban peternak dari sisi pakan, Bapanas telah menugaskan Bulog untuk melaksanakan SPHP jagung. Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, sebelumnya telah menginstruksikan Bulog untuk terus melayani peternak unggas yang membutuhkan jagung pakan dengan harga yang lebih ekonomis. Alokasi SPHP jagung pakan tahun ini juga akan ditambah sebanyak 150 ribu ton. “Selama peternak butuh, kasih. SPHP jagung Bulog kita lanjutkan,” ujar Andi Amran Sulaiman.

Program SPHP jagung pakan tahun 2026 tahap pertama telah dimulai sejak awal Mei lalu. Total kuota penyaluran ditetapkan sebesar 213.200 ton, dengan 172.100 ton telah diakses oleh peternak skala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di 29 provinsi. Daerah dengan jumlah peternak tertinggi adalah Jawa Timur dengan 3.690 peternak, disusul Jawa Tengah dengan 2.017 peternak. Untuk mengatasi fluktuasi harga daging ayam ras, Bapanas juga memberikan subsidi biaya angkut dari daerah produsen.

Tinggalkan komentar