JAKARTA – PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) berupaya menggenjot bisnis rental kendaraan listrik sebagai strategi utama, menggantikan fokus pada penjualan putus (outright sales) kepada klien. Perseroan meyakini langkah ini dapat meningkatkan volume produksi hingga tiga kali lipat.
Direktur dan Chief Financial & Risk Officer VKTR, Achmad Amri Aswono Putro, menjelaskan bahwa strategi penyewaan kendaraan listrik ini merupakan hasil evaluasi mendalam selama 3 hingga 4 tahun terakhir. Banyak klien, baik dari sektor swasta maupun BUMN, menyatakan preferensi untuk model pengeluaran berbasis operating expenditure (opex) melalui skema rental.
“Jika kami bisa menyewakan, produksi unit kami berpotensi naik dua sampai tiga kali lipat dibandingkan hanya menjual putus,” ujar Amri dalam acara ‘Emiten Corner VKTR’ yang diselenggarakan oleh PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk pada Selasa (29/9/2026).
Untuk mewujudkan strategi ini, VKTR sedang menyusun proyeksi keuangan yang komprehensif guna mengukur total addressable market, serviceable market, dan obtainable market di Indonesia. Kebutuhan modal kerja akan dipenuhi oleh VKTR, sementara aset berat (heavy asset) akan dikelola oleh anak usahanya, PT Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI), yang bergerak di bidang perdagangan besar mobil bekas dan penyewaan kendaraan bermotor.
Amri optimistis SEI akan menjadi motor penggerak elektrifikasi kendaraan listrik di Indonesia karena membutuhkan investasi aset yang signifikan. “Oleh karena itu, kami melakukan rights issue dengan memasukkan dana Rp2 triliun ke SEI. Dana ini tidak hanya untuk satu tahun, tetapi mencakup beberapa tahun ke depan, dan akan kami kombinasikan dengan pendanaan eksternal,” jelasnya.
Rights Issue VKTR
Berdasarkan prospektus ringkas yang diterbitkan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), VKTR, emiten bus listrik yang terafiliasi dengan Grup Bakrie, menawarkan sebanyak 15 miliar saham biasa. Angka ini mewakili 25,53% dari total modal disetor dengan harga pelaksanaan Rp200 per saham, yang berpotensi menghimpun dana sebesar Rp3 triliun.
Sekitar 66,86% dari dana hasil rights issue ini direncanakan akan disetorkan kepada SEI untuk pembelian kendaraan listrik dari VKTR yang dijadwalkan berlangsung antara tahun 2026 hingga 2027. Sisa dana akan digunakan oleh VKTR sebagai modal kerja untuk mendukung kebutuhan operasional perusahaan.
Jadwal pelaksanaan rights issue mencakup tanggal cum right di pasar reguler dan negosiasi pada 6 Oktober 2026, serta tanggal cum right di pasar tunai pada 8 Oktober 2026, yang bersamaan dengan recording date. Periode perdagangan HMETD akan berlangsung mulai 12 Oktober 2026, dan laporan penjatahan ke Bursa dijadwalkan pada 6 November 2026.
Direktur VKTR, Indah P. Saugi, menambahkan bahwa perseroan telah menerima pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait pelaksanaan rights issue pada Senin (28/9/2026) malam. “Kami telah mengumumkan prospektus ringkas yang dapat menjadi panduan bagi publik. Informasi mengenai VKTR dan konsep mobility as a service dapat ditinjau lebih lanjut dalam prospektus tersebut,” tandas Indah.