Program Makan Bergizi Gratis Buka Pasar Baru Komoditas Pangan Lokal

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang untuk memberikan manfaat ekonomi bagi produsen pangan, baik petani maupun peternak, dengan menciptakan permintaan baru terhadap komoditas yang mereka hasilkan, seperti daging dan telur ayam. Pemerintah mengakselerasi pembangunan ekosistem peternakan terintegrasi di lima wilayah di Indonesia, yakni Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Gorontalo, dengan anggaran Rp2,2 triliun, ditargetkan beroperasi pada 2027.

Menurut pengamat pangan dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, program MBG memiliki dua peran: sebagai program sosial untuk meningkatkan gizi masyarakat dan sebagai pendorong nilai tambah ekonomi bagi petani, peternak, serta pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Dari sisi ekonomi, skala belanja MBG menciptakan permintaan baru terhadap pangan, yang dampaknya paling terasa pada telur dan daging ayam. “Kondisi itu menunjukkan MBG berpotensi sebagai pasar penting bagi sektor pangan domestik,” ujar Eliza, Selasa (29/09/2026). Ketika operasional dapur MBG berhenti, harga kedua komoditas itu di tingkat peternak dapat tertekan, namun kembali meningkat saat program berjalan.

Meski demikian, Eliza mengingatkan bahwa MBG tidak otomatis mendongkrak kesejahteraan petani dan peternak. “Besarnya belanja pemerintah dari program itu belum otomatis berarti kesejahteraan meningkat di tingkat produsen,” paparnya. Jika rantai pasok terlalu panjang, anggaran yang sampai ke petani dan peternak bisa minim. “Kalau rantai distribusi tetap panjang, yang kenyang dulu justru perantara dan pengelola titik dapur, bukan produsen seperti petani, peternak, dan nelayan,” kata Eliza. Oleh karena itu, pemangkasan rantai pasok MBG perlu menjadi perhatian pemerintah.

Keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga membuka peluang ekonomi bagi UMKM. Sebagian dapur MBG menggandeng UMKM lokal untuk penyediaan bahan dan operasional makanan, membentuk ekosistem ekonomi lokal selain menciptakan permintaan komoditas pangan.

Manfaat bagi UMKM bergantung pada pola pengadaan dan keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok. Eliza menyoroti desain insentif bagi pengelola dapur yang ada saat ini. Jika pembayaran lebih menitikberatkan ketersediaan dapur daripada mutu makanan, pertumbuhan jumlah titik layanan tidak selalu seiring peningkatan kualitas. “Karena menggunakan anggaran negara, program MBG perlu dirancang juga dengan prinsip pengadaan pemerintah yang menempatkan kualitas sebagai dasar pembayaran,” papar dia.

Prioritaskan Produk Lokal

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan, pemerintah mempercepat pembangunan ekosistem peternakan nasional terintegrasi dari hulu hingga hilir untuk memperkuat ketahanan pangan dan menjamin ketersediaan daging ayam, telur, serta susu untuk program MBG. Tahap awal mencakup lima kawasan di Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Gorontalo, yang ditargetkan rampung pada 2027.

Pemerintah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp2,2 triliun untuk pembangunan lima kawasan ekosistem peternakan tersebut. “Anggarannya sudah turun, beliau (Presiden Prabowo Subianto) sudah tanda tangan Rp2,2 triliun untuk lima kawasan. Total anggaran yang dipersiapkan pemerintah sekitar Rp17 triliun, tetapi bukan di sini saja (Bone),” kata Mentan saat kunjungan kerja di Bone, Sulawesi Selatan, pada 25 September 2026.

Proyek ini merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo untuk memperkuat industri peternakan nasional. Pemerintah menyiapkan bujet sekitar Rp17 triliun untuk pengembangan ekosistem peternakan di sejumlah wilayah. “Lima pabrik pakan, DOC (anak ayam), dan seterusnya, itu selesai 2027. Insyaallah lima ini diresmikan tahun depan,” ujar Mentan.

Kawasan peternakan itu dirancang sebagai ekosistem terintegrasi yang tidak hanya menghasilkan produk peternakan, tetapi juga membangun rantai pasok mulai dari pakan, pembibitan (DOC), budi daya ayam, produksi telur, hingga pengembangan sapi perah dan susu. Integrasi ini diarahkan untuk memperkuat pasokan pangan bergizi bagi program MBG, dengan mendorong kebutuhan ayam, telur, dan susu dipenuhi melalui penguatan produksi dalam negeri.

“Dari hulu-hilir, ini holistik. Ada MBG jadi off-taker ayam, telur, susu, di sini produksi telur, ayam, susu,” jelas dia. Produsen, terutama peternak, akan dilibatkan dalam pengembangan ekosistem peternakan tersebut.

Tinggalkan komentar