JAKARTA – PT Victoria Care Indonesia Tbk (VICI) berencana memperkuat portofolio bisnisnya melalui ekspansi ke segmen premium, sinergi merek, serta penjajakan peluang di sektor healthcare dan wellness. Strategi ini diambil di tengah persaingan industri kecantikan yang semakin ketat, kenaikan biaya bahan baku dan kemasan, serta perubahan pola penjualan yang menuntut keseimbangan antara kanal online dan offline.
Founder VICI, Billy Hartono Salim, menyatakan bahwa perusahaan berupaya membangun portofolio yang lengkap, mencakup segmen pasar bawah, menengah, hingga atas. “Ke depan kami ingin punya portofolio yang lengkap, mulai dari segmen bawah, menengah, sampai atas,” ujarnya dalam wawancara terbatas dengan sejumlah media di Jakarta.
Saat ini, VICI menaungi delapan merek, termasuk CBD Professional, Miranda, Herborist, Nuface, Secret Clean, Victoria, Sixsence, dan Bath & Buff. Perusahaan lain yang didirikan Billy, PT Natura Pesona Mandiri (NPM), memiliki lini usaha yang lebih luas mencakup beauty, wellness, aromaterapi, ritel, pariwisata, hingga makanan dan minuman.
Perkuat Segmen Premium dan Sinergi Merek
Strategi penguatan segmen premium VICI meliputi penyiapan tiga tambahan portofolio. Salah satunya adalah rebranding Sixsence menjadi merek parfum remaja premium yang menargetkan konsumen menengah atas. Perusahaan juga tengah mempersiapkan merek skincare baru untuk memperluas jangkauan di kategori premium.
Selain itu, VICI merencanakan sinergi merek Secret Garden ke dalam portofolio perusahaan, yang ditargetkan selesai pada semester I-2027. Billy menilai Secret Garden memiliki potensi besar untuk dikembangkan bersama VICI, memanfaatkan kemampuan manufaktur, pengembangan produk, distribusi, hingga perluasan pasar. Kesamaan dalam penggunaan bahan alami dan sumber daya lokal antara Secret Garden dan Herborist diharapkan membuka peluang membawa lebih banyak produk berbasis bahan alami ke pasar yang lebih luas, termasuk ekspor.
Penguatan segmen menengah atas juga dinilai dapat membantu perusahaan menghadapi tekanan biaya. Kelompok konsumen ini dinilai relatif tidak sesensitif pasar massal terhadap perubahan harga.
Hadapi Tekanan Biaya Produksi
Di sisi produksi, VICI masih menghadapi ketergantungan pada bahan baku impor, terutama untuk wewangian dan komponen yang memerlukan teknologi pengolahan khusus. Keterbatasan teknologi ekstraksi di Indonesia menyebabkan sebagian bahan mentah harus diproses di luar negeri sebelum diimpor kembali dalam bentuk siap pakai.
Kemasan juga menjadi komponen biaya yang signifikan, bahkan dapat mencapai sekitar 40% terhadap biaya produksi pada produk tertentu. Pergerakan harga minyak dan nilai tukar turut memengaruhi komponen biaya ini. Untuk merespons tekanan biaya, perusahaan melakukan penyesuaian harga dan efisiensi. Manajemen melaporkan kondisi pada semester II mulai membaik dibandingkan paruh pertama tahun ini, seiring stabilnya harga bahan baku dan kemasan serta berkurangnya belanja promosi.
Distribusi Offline Tetap Menjadi Fondasi
Meskipun perdagangan digital terus berkembang, penjualan VICI masih dominan ditopang oleh jaringan fisik. Hingga Juni 2026, sekitar 26,4% penjualan berasal dari online platform dan marketplace, sementara sisanya berasal dari kanal di luar platform digital.
Kekuatan jaringan distribusi ini menjadi modal VICI untuk menjajaki kerja sama dengan merek lokal yang selama ini lebih banyak berkembang melalui kanal digital. Billy mengakui banyak merek baru tumbuh mengandalkan jasa maklon dan penjualan melalui marketplace. Namun, peningkatan biaya platform dapat menekan margin, mendorong sebagian pelaku mencari akses lebih luas ke jaringan distribusi fisik.
Saat ini, perusahaan tengah menjajaki sekitar tiga merek yang dinilai memiliki basis penjualan online kuat namun belum memiliki jaringan offline yang memadai. “Fondasi kami adalah distribusi. Jadi kami masuk ke segmen atau produk yang masih memiliki korelasi dekat dengan jaringan yang sudah dimiliki,” kata Billy.
Jajaki Sektor Healthcare dan Wellness
Selain industri kecantikan, sektor healthcare menjadi area pengembangan bisnis jangka panjang yang mulai dipertimbangkan VICI. Penjajakan sektor ini merupakan upaya membangun ekosistem yang lebih luas dari beauty dan personal care menuju kebutuhan kesehatan dan kesejahteraan konsumen.
Pengembangan di sektor ini akan mempertimbangkan kemampuan perusahaan, kebutuhan pasar, serta peluang yang memberikan nilai tambah berkelanjutan. Peluang tersebut dapat mencakup kategori yang dekat dengan jaringan distribusi perusahaan, seperti hair care, vitamin, suplemen, dan produk wellness.
Menurut estimasi internal, ukuran pasar kosmetik Indonesia berkisar Rp125 triliun-Rp150 triliun. Pasar kesehatan mencakup kategori yang lebih luas, mulai dari farmasi, suplemen, alat kesehatan, hingga layanan kesehatan. Tren wellness juga terus berkembang seiring meningkatnya perhatian konsumen, termasuk generasi muda, terhadap kesehatan dan upaya pencegahan penyakit.
Billy menjelaskan bahwa pengembangan ini tidak semata-mata untuk menambah portofolio, melainkan membangun perjalanan konsumen yang mengikuti perubahan kebutuhan masyarakat. “Saya melihat perjalanan bisnis ini sebagai sebuah proses untuk terus berkembang. Dari beauty dan personal care serta melihat bagaimana peluang di healthcare dapat menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar,” ujarnya.
Perluas Pasar Internasional
VICI juga aktif memasarkan produknya ke sejumlah negara. Pasar internasional perusahaan mencakup Brunei Darussalam, Papua Nugini, Taiwan, Filipina, Korea Selatan, Timor Leste, Lebanon, Selandia Baru, Bulgaria, Malaysia, Hong Kong, Singapura, dan Tanzania.
Perusahaan juga melihat peluang memperluas penetrasi Secret Garden di pasar regional, termasuk Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Filipina, dibarengi dengan pengurusan perlindungan hak kekayaan intelektual merek secara internasional. Bali dinilai dapat menjadi pintu pengenalan produk kepada konsumen internasional karena besarnya arus wisatawan asing.
Di tengah rencana ekspansi tersebut, Billy menilai tantangan industri tidak hanya berasal dari daya beli, tetapi juga persaingan produk impor, perubahan perilaku konsumen, tekanan biaya produksi, dan biaya penjualan melalui platform digital. Oleh karena itu, perusahaan memilih memperluas portofolio, mengoptimalkan jaringan distribusi, meningkatkan efisiensi biaya, serta menjajaki kategori bisnis baru yang masih memiliki keterkaitan dengan kemampuan yang sudah dimiliki.