JAKARTA – Veda Praxis dan Mitra Bhadra Consulting (MBC) menjalin kemitraan strategis guna memperkuat integrasi prinsip environmental, social, and governance (ESG) dalam penerapan governance di Indonesia. Kolaborasi ini memadukan pengalaman Veda Praxis dalam membangun good corporate governance (GCG) dengan keahlian MBC di bidang ESG.
Tujuan utama kemitraan ini adalah membantu organisasi mengembangkan tata kelola yang efektif dan mampu merespons faktor keberlanjutan yang memengaruhi strategi, risiko, serta penciptaan nilai perusahaan. Kemitraan ini diluncurkan melalui webinar bertajuk Governance Beyond Compliance: Creating Sustainable Value through Integrated GRC pada 30 September 2026.
Syahraki Syahrir, CEO Veda Praxis, menyatakan bahwa keberlanjutan kini menjadi aspek krusial dalam operasional bisnis. Perusahaan tidak hanya dituntut menciptakan nilai, tetapi juga mengelola dampak kegiatan usaha terhadap lingkungan dan masyarakat. “Melalui kemitraan ini, kami menggabungkan kapabilitas teknis Veda Praxis dalam governance dengan pengalaman MBC di bidang ESG untuk membantu organisasi menjawab tuntutan tersebut dan membangun governance yang mendukung ketahanan jangka panjang,” ujar Syahraki.
Praktik governance terus berevolusi dari GCG menjadi pendekatan governance, risk, and compliance (GRC) terintegrasi, dan kini meluas ke ESG. Perkembangan ini didasari pemahaman bahwa keberlanjutan tidak hanya bergantung pada kinerja keuangan, tetapi juga mempertimbangkan faktor sosial, lingkungan, regulasi, dan teknologi.
Dr. Drs. Mas Achmad Daniri, M.E., Founder & Senior Advisor MBC, menekankan pentingnya memaksimalkan tiga aspek: planet, people, dan profit. Ia berpendapat bahwa fokus pada profit semata tidak cukup untuk mewujudkan keberlanjutan. “Karena itu, cara pandang perlu berubah. Di samping profit, perusahaan juga perlu memikirkan kepentingan people dan planet. Dengan demikian, keberlanjutan dapat tumbuh dan menjadi perhatian bersama,” katanya.
Tren global ini turut membentuk praktik bisnis di Indonesia, di mana regulasi dan ekspektasi pemangku kepentingan semakin menuntut integrasi aspek keberlanjutan. Kemampuan mengelola GRC dan ESG secara terintegrasi menjadi kunci daya saing perusahaan.
Melalui kemitraan ini, MBC dan Veda Praxis berupaya membantu organisasi menerjemahkan prinsip keberlanjutan ke dalam praktik bisnis konkret. Hal ini dilakukan agar kinerja, risiko, dan dampak dapat dikelola bersama untuk menciptakan nilai jangka panjang.
Dadan Gunawan, SIRM, Founder & GRC Partner Veda Praxis, menyoroti tantangan penerapan GRC di Indonesia yang masih sering berjalan terpisah antar fungsi dan belum terhubung dengan strategi bisnis. “Esensi GRC adalah integrasi. GRC tidak akan memberikan manfaat yang optimal apabila governance, manajemen risiko, dan kepatuhan dijalankan sebagai tiga fungsi yang berdiri sendiri-sendiri dalam silo organisasi,” jelasnya.
Dadan menambahkan bahwa GRC terintegrasi membutuhkan kepemimpinan kolegial yang menyatukan arah organisasi, risiko, peluang, dan respons. “Pada akhirnya, hanya kepemimpinan yang dapat mengintegrasikan manusia, keputusan, dan tindakan,” tambahnya.
Achmad Daniri menjelaskan perkembangan pendekatan governance dari GCG ke ESG, yang berangkat dari kesadaran bahwa keberlanjutan perusahaan memerlukan pertimbangan dampak terhadap manusia dan lingkungan. Irwan M. Habsjah, MA, Senior Business Consultant MBC, menekankan pentingnya menempatkan ESG dan GRC dalam proses perencanaan bisnis. “Ke depan, ESG dan GRC perlu menjadi masukan aktif dalam perencanaan dan kebutuhan bisnis. ESG harus menjadi bagian dari business objective dan pelaksanaannya, didukung oleh GRC yang terintegrasi dan terimplementasi dengan baik,” ujarnya.
Acara ditutup dengan penandatanganan kemitraan oleh Syahraki Syahrir dan Achmad Daniri. Ke depan, Veda Praxis dan MBC akan mengembangkan kolaborasi untuk membantu organisasi mengintegrasikan perspektif ESG ke dalam governance dan pengelolaan bisnis, sehingga ESG menjadi bagian dari cara organisasi dikelola untuk menjaga ketahanan bisnis dan menciptakan nilai berkelanjutan.