PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) tengah melakukan transformasi logistik hijau secara bertahap dengan mengadopsi program elektrifikasi untuk kendaraan alat berat dan material handling di kawasan smelter Morosi, Sulawesi Tenggara. Inisiatif ini merupakan bagian integral dari strategi dekarbonisasi perusahaan yang bertujuan mengurangi emisi karbon dari operasional, meningkatkan efisiensi energi, dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik.
Langkah elektrifikasi yang diambil VDNI sejalan dengan kebijakan pemerintah Indonesia dalam mendorong dekarbonisasi industri. Peta Jalan Dekarbonisasi Industri Nikel Indonesia yang disusun oleh Kementerian PPN/Bappenas menargetkan penurunan emisi industri nikel hingga 81% pada tahun 2045 melalui berbagai transformasi, termasuk peningkatan efisiensi energi dan penerapan teknologi rendah emisi.
Corporate Affairs Manager VDNI, Adam Rumanda, menyatakan bahwa visi dan misi perusahaan sejalan dengan tujuan jangka panjang pemerintah dalam pengendalian emisi karbon industri. Ia menekankan bahwa pengendalian emisi karbon dan efisiensi energi menjadi faktor kunci dalam strategi dekarbonisasi di Smelter Morosi, dengan fokus pada konsep Low-Carbon Electricity & Electrification.
Penerapan konsep ini diawali dengan peningkatan penggunaan kendaraan alat berat dan material handling bertenaga listrik untuk aktivitas operasional. Kendaraan listrik yang digunakan meliputi excavator, loader, dan dump truck, yang berperan dalam pengangkutan bahan baku, persiapan material untuk proses produksi feronikel, hingga pencampuran batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik.
Saat ini, VDNI telah mengoperasikan total 69 unit kendaraan alat berat dan material handling bertenaga listrik, terdiri dari 16 unit excavator dan 13 unit loader, dengan investasi mencapai sekitar Rp45 miliar. Selain itu, 40 unit dump truck yang dioperasikan oleh pihak eksternal turut mendukung pengangkutan bijih nikel dan batu bara dari jetty menuju area smelter, memastikan kelancaran pasokan bahan baku.
Dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar fosil, kendaraan listrik menawarkan keunggulan berupa tidak adanya emisi gas buang langsung dan tingkat kebisingan yang lebih rendah. Program elektrifikasi ini diharapkan berkontribusi pada peningkatan kualitas lingkungan kerja dan pengurangan emisi dari aktivitas logistik di kawasan smelter.
“Penerapan alat berat dan material handling bertenaga listrik merupakan investasi jangka panjang VDNI untuk mengurangi emisi gas buang dan tingkat kebisingan di lingkungan smelter, sehingga menciptakan kondisi operasional yang ramah lingkungan dan kondusif sekaligus memberikan dampak positif bagi lingkungan di sekitar kawasan. Langkah ini adalah wujud nyata dukungan VDNI terhadap target Pemerintah Indonesia dalam mencapai target Net Zero Emissions pada 2060,” ujar Adam Rumanda dalam keterangan resmi.
Program elektrifikasi ini merupakan implementasi dari transformasi logistik hijau VDNI untuk mendukung agenda green transformation yang menjadi perhatian industri tambang dan nikel global. Sebagai bagian dari China First Heavy Industries (CFHI), VDNI akan terus mengembangkan penggunaan teknologi dan peralatan rendah emisi dalam operasionalnya, dengan tetap mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan spesifik.
Ke depan, VDNI berencana untuk terus meningkatkan penggunaan kendaraan alat berat dan material handling berbasis listrik di kawasan smelter. Perusahaan juga akan fokus pada penambahan armada listrik, pengembangan fasilitas pengisian dan penggantian baterai, serta optimalisasi penjadwalan penggunaan kendaraan listrik. Langkah-langkah ini menegaskan komitmen VDNI dalam berkontribusi terhadap upaya dekarbonisasi industri dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
“Penerapan elektrifikasi pada armada alat angkut berat dan material handling di adalah wujud komitmen VDNI dalam menghadirkan operasional smelter yang lebih hijau. Kami optimistis inisiatif ini mampu mereduksi emisi gas rumah kaca sebesar 43.411 ton pada akhir tahun 2027,” pungkas Adam Rumanda.