Gen Z, Pahami Profil Risiko Dulu Sebelum Terjebak FOMO Investasi

JAKARTA – Investasi merupakan sebuah perjalanan personal yang tidak bisa disamakan antara satu individu dengan individu lainnya. Hal ini ditekankan oleh Hirzi Muhammad Hafiz, Director of Research GIS UIN, sebagai panduan bagi generasi muda, khususnya Gen Z, yang kerap dilanda fenomena FOMO (fear of missing out) ketika melihat rekan sebaya telah lebih dulu terjun ke dunia investasi.

“Mungkin yang cocok investasi itu tergantung diri kita sendiri,” ujar Hirzi dalam sebuah sesi Money Lab baru-baru ini. Ia menjelaskan bahwa pemahaman mendalam mengenai profil risiko pribadi, besaran pendapatan, serta pola pengeluaran bulanan adalah fondasi krusial sebelum memulai investasi.

Menurut Hirzi, kerugian finansial sebesar 10% atau 20% dapat memberikan dampak emosional yang berbeda bagi setiap investor. Ada yang menganggapnya sebagai hal yang tidak terlalu signifikan, namun bagi sebagian lainnya, nominal tersebut bisa menjadi persoalan serius.

Untuk memulai langkah investasi, Hirzi menyarankan agar investor memiliki rincian yang jelas mengenai kebutuhan pengeluaran bulanan mereka. Selain itu, analisis sentimen dan fundamental pasar juga perlu dilakukan. Tujuannya adalah untuk menghindari pemilihan instrumen investasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan, yang pada akhirnya justru tidak memberikan kepuasan.

“Kalau misalkan teman-teman gak nyaman dengan investasi teman-teman, lebih baik teman-teman cut aja. Atau teman-teman jual aja dan pindahkan ke instrumen lain yang menurut teman-teman lebih nyaman,” jelas Hirzi, menekankan pentingnya kenyamanan investor dengan instrumen pilihannya.

Lebih lanjut, Hirzi merekomendasikan reksa dana sebagai pilihan investasi awal yang cocok bagi Gen Z. Proses pencairan reksa dana yang memerlukan beberapa hari kerja, bergantung pada produk dan manajer investasi, dapat membantu menekan hasrat konsumtif. Hal ini berbeda dengan menyimpan uang di bank yang memungkinkan pencairan instan.

“Dengan begitu, Gen Z dapat menekan hasrat konsumtif karena dana yang tadinya ingin digunakan untuk check out Shopee dan sejenisnya telah lebih dulu diinvestasikan,” tuturnya.

Bagi Gen Z yang masih ragu mengenai aspek kehalalan instrumen investasi, Hirzi menyarankan untuk menjajaki investasi syariah. Meskipun instrumen ini tergolong relatif baru dan pengetahuannya mungkin masih terbatas, Hirzi melihat potensi besar di dalamnya.

“In this economy sudah banyak banget (instrumen investasi syariah), hanya saja untuk pengetahuannya mungkin masih kurang karena investasi syariah masih tergolong baru,” sambung Hirzi.

Hirzi menegaskan, kunci utama dalam berinvestasi adalah disiplin dan kesabaran. Mengingat setiap orang memiliki titik awal yang berbeda, sangat penting bagi individu untuk mengenali diri sendiri sebelum memutuskan untuk berinvestasi. “Kuncinya untuk berinvestasi itu disiplin dan sabar karena semua orang punya start yang berbeda-beda, jadi penting bagi kita untuk mengetahui diri kita sendiri lalu kita baru bisa mulai berinvestasi,” pungkas Hirzi.

Tinggalkan komentar