TOBA Ungkap Strategi Pendanaan untuk Bisnis Hijau di Tengah Tantangan Finansial

JAKARTA – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) tengah melakukan transformasi bisnis dari sektor batu bara menuju infrastruktur berkelanjutan. Langkah ini bukan sekadar narasi transisi, melainkan strategi krusial untuk mengamankan akses pendanaan dari pasar modal global.

Bisnis-bisnis baru seperti pengolahan limbah, energi baru terbarukan, dan ekosistem kendaraan listrik membutuhkan investasi yang sangat besar. Namun, TOBA yang terafiliasi dengan Luhut Binsar Pandjaitan ini juga menghadapi tantangan finansial yang signifikan. Laporan Sucor Sekuritas mencatat, debt-to-equity ratio (DER) perseroan mencapai 344,26% dan leverage 5,4 kali, yang menunjukkan adanya keterbatasan ruang gerak pembiayaan untuk mendukung transformasi bisnis hijau.

Hingga 30 Juni 2026, kas dan setara kas TOBA tercatat sebesar US$85 juta, menurun dari US$93 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, total liabilitas mencapai US$575 juta, sedikit turun dari US$577 juta pada akhir 2025. Ekuitas perseroan berada di angka US$188,9 juta pada semester I-2026, turun 12% dibandingkan US$215 juta pada akhir 2025.

Tanpa dukungan modal yang kuat, agenda transformasi TOBA menuju bisnis infrastruktur berkelanjutan berisiko terhambat. Terlebih lagi, dalam kondisi pengetatan suku bunga saat ini, opsi pendanaan melalui pinjaman bank atau penerbitan obligasi dan sukuk menjadi kurang menarik karena berpotensi meningkatkan biaya dana perusahaan.

Pengakuan Global sebagai Kunci Pendanaan

SVP Investor Relations TOBA, Mirza Hippy, menyatakan bahwa perusahaan selalu terbuka terhadap berbagai opsi pendanaan. Ini termasuk pembiayaan bank, instrumen pasar modal seperti obligasi dan sukuk, serta penambahan modal melalui rights issue, selain penggunaan kas internal sebagai pilihan utama.

Dalam beberapa tahun terakhir, TOBA telah berfokus pada peningkatan hubungan dengan stakeholder pendanaan global. Hasilnya, perseroan berhasil mendapatkan blended concessional financing dari Asian Development Bank (ADB) dengan biaya dana yang sangat kompetitif. Menurut Mirza, pengakuan ini menunjukkan bahwa TOBA telah mendapatkan validasi global untuk menjalankan transformasi bisnis berkelanjutan.

“Jadi, ini salah satu opsi yang terus kami eksplorasi ke depan,” ujar Mirza dalam acara ‘Stock Idea Talks’ yang diselenggarakan oleh Sucor Sekuritas secara virtual. TOBA juga terus memastikan pengelolaan kewajiban jangka pendek yang baik dengan mengatur profil jatuh tempo agar pertumbuhan bisnis dapat berjalan seiring dengan pemenuhan kewajiban.

Berdasarkan data KSEI, obligasi TOBA yang akan jatuh tempo paling dekat adalah Obligasi Berkelanjutan I TBS Energi Utama Tahun 2023 Seri B senilai Rp75 miliar dengan bunga tetap 10% pada 3 Maret 2028. Selain itu, terdapat obligasi senilai pokok Rp20 miliar yang jatuh tempo pada 8 Juli 2028 dari Obligasi Berkelanjutan I TBS Energi Utama Tahap I 2025 Seri A dengan bunga tetap 8,5%.

Pertimbangan Rights Issue dan Perbaikan Kualitas Bisnis

Selain memperluas eksposur pendanaan global, TOBA juga mempertimbangkan opsi rights issue. Opsi ini telah disetujui oleh pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada April 2026. RUPS menyetujui penerbitan sebanyak 1,39 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham. Dana hasil rights issue ini akan digunakan untuk membiayai kegiatan investasi dan aksi korporasi secara umum.

“Jadi, kami akan mengeksplorasi opsi-opsi tadi dan mengombinasikan apakah melalui kas internal, pembiayaan perbankan, penerbitan obligasi dan sukuk serta rights issue. Kami juga tidak menutup kemungkinan untuk menjalin kerja sama dengan mitra strategis,” papar Mirza. Ia menambahkan bahwa perusahaan terus memantau opsi mana yang paling memberikan nilai tambah bagi TOBA di masa depan.

Hingga 30 Juni 2026, TOBA masih membukukan rugi bersih sebesar US$19,65 juta, angka ini lebih kecil dibandingkan kerugian US$115,61 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan dari kontrak pelanggan mengalami kenaikan tipis menjadi US$173 juta dari US$172,21 juta pada semester I-2025. Laba kotor tercatat sebesar US$28,22 juta, meningkat signifikan dari US$13,90 juta pada semester I-2025.

SVP Corporate Strategy TOBA, Nafi Sentausa, menjelaskan bahwa peningkatan margin laba kotor menunjukkan transformasi bisnis perseroan mulai tercermin dalam laporan keuangan. Dampak dari faktor non-cash yang sebelumnya membebani, diyakini akan menurun secara bertahap di masa mendatang.

“Jadi, memang secara kualitas bisnis dan cash earning capability sudah ada perbaikan daripada periode sama tahun lalu,” ujar Nafi. Namun, ia enggan memberikan proyeksi spesifik mengenai kapan TOBA akan mampu membukukan keuntungan. “Kami tidak bisa memberikan proyeksi secara spesifik, tapi secara internal kami ada angka-angka yang kami harapkan,” tutupnya.

Tinggalkan komentar