DCII Manfaatkan Lonjakan Bisnis AI untuk Ekspansi Kapasitas Data Center

JAKARTA – PT DCI Indonesia Tbk (DCII), perusahaan yang terafiliasi dengan salah satu orang terkaya di Indonesia, Otto Toto Sugiri, kini berada di tengah gelombang bisnis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Lonjakan AI ini secara langsung mendorong peningkatan kebutuhan akan pusat data atau data center berkapasitas tinggi.

Sebagai operator data center, DCII saat ini mengoperasikan kapasitas sebesar 132 megawatt (MW) yang tersebar di sembilan fasilitas data center di lima lokasi berbeda. Perusahaan memiliki potensi pengembangan platform yang dapat melampaui 2 gigawatt (GW).

Pendapatan utama DCII, yang mencapai sekitar 94%, berasal dari bisnis colocation. Layanan ini mencakup penyediaan ruang, daya listrik, pendinginan, konektivitas, dan infrastruktur data center bagi para pelanggan. Pendapatan ini ditopang oleh kontrak penyediaan kapasitas daya jangka panjang dengan lebih dari 270 pelanggan, termasuk enam penyedia layanan komputasi awan global.

“Kampus H1 di Cibitung menjadi fasilitas utama DCII dengan kapasitas operasional 75 MW melalui lima data center. Angka itu setara 57% dari total kapasitas DCII saat ini,” tulis analis MNC Sekuritas, Christian Sitorus dalam risetnya.

Christian menambahkan bahwa H1 masih memiliki ruang ekspansi sekitar 145 MW, sehingga potensi kapasitas keseluruhannya dapat mencapai 220 MW. Dalam kurun waktu 12 tahun terakhir, kapasitas perusahaan ini tercatat telah meningkat sekitar 25 kali lipat.

Dampak positif bisnis AI juga terlihat dari kemampuan fasilitas DCII dalam menyediakan densitas daya lebih dari 120 kilowatt (kW) per rak. Kapasitas ini jauh melampaui data center colocation konvensional yang umumnya hanya berkisar 5–15 kW per rak.

DCII juga mencatat rekam jejak ketersediaan daya listrik yang sempurna, mencapai 100% sejak tahun 2013. Perusahaan ini merupakan operator pertama di Asia Tenggara yang berhasil meraih sertifikasi Tier IV Constructed Facility, sekaligus Tier IV Gold Operational Sustainability.

Ekspansi selanjutnya akan dilakukan melalui fasilitas JK7 yang ditargetkan mencapai commercial operation date (COD) atau mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2027. Fasilitas ini diharapkan dapat menambah sekitar 120 MW kapasitas untuk melayani segmen hyperscale.

Sementara itu, H5 Data Center Park memiliki potensi kapasitas sekitar 1 GW yang terletak di lahan seluas kurang lebih 700 hektare. Kawasan ini berjarak sekitar 40 menit dari Singapura dan berada di zona ekonomi khusus (special economic zone/SEZ) serta kawasan perdagangan bebas (free trade zone/FTZ).

“H5 diarahkan untuk melayani operator hyperscale yang menghadapi keterbatasan lahan dan pasokan listrik di Singapura,” jelas Christian.

Secara keseluruhan, potensi kapasitas platform DCII diproyeksikan dapat melampaui 2 GW. Namun, realisasi peluang ini akan sangat bergantung pada pertumbuhan permintaan pasar, ketersediaan pasokan listrik, serta kemampuan DCII dalam mengeksekusi belanja modal (capital expenditure/capex).

Tinggalkan komentar