Seorang penumpang wanita mengalami persalinan darurat di dalam gerbong Kereta Rel Listrik (KRL) relasi Rangkasbitung-Tanah Abang atau Green Line. Peristiwa tak terduga ini terjadi di Stasiun Rawabuntu, Tangerang Selatan, di mana sedikitnya tiga petugas KAI Commuter Indonesia (KCI) sigap membantu proses persalinan tersebut.
Ketiga petugas, yang terdiri dari petugas keamanan Masroni (28) dan Nurhidayat (28), serta petugas kesehatan Annisa (22), mengaku pengalaman ini merupakan yang pertama bagi mereka. Meskipun sempat merasakan ketegangan, koordinasi yang cepat dan penerapan standar prosedur operasional membuat proses persalinan berjalan lancar.
Penumpang wanita dan bayi yang dilahirkan dalam kondisi selamat. Keduanya kemudian dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat setelah menerima penanganan awal di stasiun.
Masroni menceritakan rasa kaget saat kejadian langka tersebut terjadi. “Jujur, kita di lapangan sempat kaget juga ya, karena ini kejadian yang sangat jarang terjadi. Dan kami berusaha untuk semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan kepada si Ibu agar si bayi selamat dan ibunya selamat,” ujarnya.
Kejadian bermula ketika petugas Stasiun Rawabuntu menerima laporan dari petugas pengawalan kereta (walka) mengenai seorang penumpang yang mengeluh sakit perut. Petugas keamanan stasiun segera bersiaga.
Nurhidayat menambahkan bahwa ia sempat membawa kursi roda ke dalam kereta karena penumpang tersebut sudah tidak sanggup berdiri dan keluar. Ia melihat penumpang lain di dalam gerbong juga turut membantu ibu yang ternyata hendak melahirkan itu. “Setelah saya lihat, si ibu tuh lagi dibantu sama penumpang lain, lagi kesakitan. Terus, si ibu sempat sama saya, sama Mas Roni, sempat mau ditangani, ibu udah nggak kuat,” kata Nurhidayat.
Momen persalinan darurat di dalam KRL ini terekam oleh beberapa penumpang lain dan videonya kemudian viral di media sosial. Situasi di dalam gerbong tampak ramai dan menegangkan pada Kamis (24/9) sekitar pukul 10.55 WIB. Dalam video tersebut, terdengar sorakan penumpang dan terlihat beberapa petugas yang menyediakan kursi roda serta tandu untuk evakuasi.
Annisa, petugas kesehatan yang dipanggil untuk membantu, mengakui rasa tegangnya. “Saat itu yang terlintas di pikiran saya, saya kan sebagai petugas kesehatan, jujur merasa tegang juga. Tapi untuk di posisi tersebut saya harus tetap fokus dan tenang pada keselamatan ibu dan bayinya,” tuturnya.
Bagi Annisa, peristiwa ini menjadi pengalaman paling membekas selama bertugas sebagai tenaga kesehatan di stasiun. Ia bersyukur ilmu yang didapat dari pendidikannya dapat diaplikasikan untuk membantu proses persalinan yang lancar. “Ya, perawat memiliki keterampilan yang berkaitan dengan membantu proses persalinan. Secara umum, perawat maternitas/keperawatan dapat membantu memberikan asuhan keperawatan kepada ibu selama persalinan, misalnya memantau tanda vital, kontraksi, kondisi ibu dan janin, memberikan dukungan, membantu posisi ibu, serta menyiapkan peralatan,” jelasnya.
Setelah bayi dilahirkan, Annisa segera mengecek kondisi bayi dan memastikan keselamatannya. Ia mengungkapkan rasa syukurnya karena ibu dan bayi selamat dan membutuhkan penanganan lebih lanjut. “Nah, alhamdulillahnya juga ibu dan bayinya selamat. Karena kan butuh penanganan lebih lanjut, maka saya dan petugas lainnya, PKD, dan petugas-petugas tim RU melakukan rujukan ke faskes terdekat dan itu alhamdulillah bayinya dan ibunya selamat,” kata Annisa.
Aksi sigap para petugas ini mendapat apresiasi positif dari warganet. Menanggapi hal tersebut, ketiga petugas menganggap respons positif tersebut sebagai motivasi untuk terus meningkatkan pelayanan di Commuter line.