Temasek Optimistis, Belanja Infrastruktur AI Dianggap Wajar

BOSTON – Temasek menilai belanja besar perusahaan teknologi untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) masih berada pada tingkat yang dapat diterima seiring dengan peningkatan penggunaannya. Perusahaan-perusahaan yang membiayai pembangunan infrastruktur AI disebut memiliki kondisi keuangan yang kuat dan investasi tersebut diperkirakan memberikan imbal hasil yang sepadan dengan risikonya.

“Yang menopang seluruh pembangunan AI ini adalah sejumlah neraca keuangan terkuat di dunia. Kami tetap sangat positif terhadap AI,” kata Kepala Temasek untuk Amerika Utara Jane Atherton dalam acara Reuters Investment USA di Boston, Amerika Serikat (AS), Kamis (01/10/2026).

Pernyataan Atherton muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap belanja modal perusahaan hyperscaler, terutama untuk membangun pusat data dan membeli chip berperforma tinggi. Aksi jual di pasar obligasi global serta ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat turut memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan belanja besar perusahaan teknologi di tengah tingkat suku bunga yang tinggi.

Analis memperkirakan belanja modal perusahaan hyperscaler dapat melampaui US$1 triliun pada 2027. Kebutuhan ini terutama didorong oleh investasi pada chip dan pusat data untuk memenuhi permintaan komputasi AI yang terus meningkat.

Temasek, sebagai salah satu investor negara terbesar di dunia dengan nilai portofolio sekitar US$400 miliar, memiliki investasi di sejumlah perusahaan teknologi, termasuk Anthropic dan OpenAI. Portofolio Temasek di kawasan Amerika mencakup sekitar 26% dari total investasinya, dengan sebagian besar berada di AS. Sejumlah perusahaan besar seperti BlackRock, Mastercard, dan Nvidia termasuk dalam portofolio investasi Temasek.

Sebelumnya, Temasek juga menyampaikan rencana meningkatkan eksposur investasinya terhadap ekosistem AI hingga sekitar 15% dari total portofolio dalam lima tahun mendatang. Saat ini, porsi investasi terkait AI berada di kisaran 6%.

Di sisi lain, perkembangan AI yang berlangsung cepat juga memicu perdebatan mengenai aspek keamanan teknologi tersebut. Sejumlah perusahaan dan tokoh di industri teknologi telah menyerukan agar pengembangan AI dilakukan dengan lebih hati-hati karena potensi risiko yang dapat muncul seiring meningkatnya kemampuan sistem AI.

Atherton menilai persoalan keamanan AI perlu ditangani bersama oleh pemerintah dan perusahaan pengembang teknologi. “Saya benar-benar tidak tahu bagaimana Anda menetapkan harga terhadap berakhirnya umat manusia. Namun, jika itu terjadi, pada akhirnya hal tersebut tidak akan terlalu berarti,” ujar Atherton.

Tinggalkan komentar