JAKARTA – Chief Executive Officer (CEO) BlackRock, Larry Fink, memberikan peringatan keras mengenai praktik menyimpan uang tunai di rekening tabungan bank. Menurutnya, tindakan ini bisa menjadi salah satu keputusan finansial terburuk dalam hidup seseorang.
Fink menyampaikan pandangannya dalam forum Milken Institute Global Conference, seperti dilaporkan Moneywise. Ia menjelaskan bahwa membiarkan uang mengendap tanpa diinvestasikan ke aset produktif akan membuat kekayaan tergerus perlahan oleh laju inflasi. Pimpinan perusahaan pengelola aset terbesar di dunia ini juga menyoroti percepatan perubahan lanskap ekonomi global yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI).
Ia menilai bahwa pertumbuhan gaji tenaga kerja di era AI tidak akan mampu mengimbangi pesatnya pertumbuhan nilai kapital dan teknologi. “Kita tidak akan bisa memperluas keberhasilan ekonomi hanya bersandarkan pada kenaikan gaji, karena pertumbuhan gaji di dunia AI ini tidak akan secepat potensi pertumbuhan AI dan modal yang diinvestasikan,” ujar Fink.
Risiko Tabungan Bank dan Solusi Rekening Berimbal Hasil Tinggi
Meskipun rekening bank secara tradisional menawarkan likuiditas tinggi dan jaminan keamanan, seperti asuransi FDIC di Amerika Serikat, daya beli uang tunai berisiko terdegradasi akibat inflasi. Ketika inflasi melonjak melebihi 3%, suku bunga tabungan konvensional yang rendah justru membuat nilai riil tabungan menyusut dari tahun ke tahun.
Sebagai langkah awal sebelum beralih ke instrumen yang lebih berisiko, investor dapat memanfaatkan rekening berimbal hasil tinggi atau high-yield account. Beberapa platform finansial menawarkan bunga tahunan (APY) yang jauh melampaui rata-rata suku bunga tabungan nasional, misalnya berkisar antara 3,30% hingga 4,30%.
Pilihan Alternatif untuk Membangun Kekayaan Jangka Panjang
Untuk membangun kekayaan jangka panjang yang mampu mengalahkan inflasi, para pakar keuangan menyarankan beberapa strategi investasi alternatif:
Pasar Saham dan Reksa Dana/ETF
Indeks S&P 500 tercatat mencetak imbal hasil rata-rata tahunan sekitar 10,51% sejak diluncurkan pada 1957. Bagi pemula, investasi melalui reksa dana atau Exchange-Traded Funds (ETF) yang mengindeks pasar secara luas dapat menjadi pilihan aman. Instrumen ini menawarkan diversifikasi tanpa perlu memilih saham individual.
Investasi Properti Tanpa Menjadi Tuan Tanah
Fink menyarankan pergeseran portofolio tradisional menjadi skema yang mencakup aset privat seperti properti dan infrastruktur. Skema crowdfunding real estat kini memungkinkan investor membeli bagian saham properti sewaan dan memperoleh pendapatan pasif serta apresiasi nilai properti tanpa perlu mengelola fisik bangunan.
Diversifikasi Melalui Emas
Aset lindung nilai (hedge) seperti emas terus menunjukkan performa solid saat terjadi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, merekomendasikan alokasi 10% hingga 15% portofolio pada emas untuk meredam risiko gejolak pasar sekaligus meningkatkan potensi imbal hasil.
Gagasan Larry Fink mencerminkan pergeseran fundamental dalam pengelolaan keuangan pribadi masyarakat global. Kombinasi antara tren inflasi tinggi, penurunan suku bunga riil tabungan, dan otomatisasi akibat teknologi AI telah mengubah aturan main pengelolaan kekayaan.
Dalam era ekonomi digital dan AI, akumulasi kekayaan tidak lagi didominasi oleh pendapatan berbasis gaji, melainkan oleh kepemilikan modal dan aset produktif. Tanpa partisipasi aktif dalam pasar modal atau instrumen investasi bernilai tambah, angkatan kerja berisiko mengalami penurunan daya beli secara berkelanjutan. Oleh karena itu, edukasi mengenai diversifikasi portofolio dari sekadar simpanan kas menuju investasi berbasis aset menjadi krusial dalam menjaga ketahanan ekonomi keluarga di masa depan.