Sumba Terjepit Sumber Gempa Besar, Pakar Desak Mitigasi Bencana Serius

Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, menghadapi ancaman serius dari tiga sumber potensi gempa bumi dan tsunami berskala besar. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) dan dosen Magister Manajemen Bencana Universitas Indonesia, Daryono, menekankan pentingnya langkah mitigasi yang segera, terukur, dan berkelanjutan oleh pemerintah daerah serta masyarakat setempat.

Secara geografis, Sumba berada di zona tektonik aktif yang membuatnya rentan terhadap bencana. Tiga sumber utama ancaman yang mengapit wilayah ini adalah Megathrust Sumba di selatan dengan potensi magnitudo maksimum (M max) hingga 8,5, Sesar Waikabubak di lepas pantai barat daya dengan potensi M max 7,4, dan Sesar Bondowatu di daratan Sumba Barat dengan potensi M max 6,6.

Aktivitas Seismik Tinggi dan Ancaman Sesar Waikabubak

Nyataya ancaman bencana seismik di Sumba dibuktikan oleh catatan aktivitas gempa. Antara tahun 2019 hingga 2026, sedikitnya 12 kali gempa signifikan dengan magnitudo antara 5,0 hingga 5,9 mengguncang wilayah Kodi, Sumba Barat Daya, dan sekitarnya. Puncaknya terjadi pada Minggu, 4 Oktober 2026, ketika gempa magnitudo 5,9 memicu guncangan kuat hingga skala VI Modified Mercalli Intensity (MMI), menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah warga.

Gempa merusak ini diduga kuat dipicu oleh aktivitas Sesar Waikabubak, sebuah patahan dengan mekanisme normal fault, di mana satu blok batuan bergerak relatif turun terhadap blok lainnya.

Parameter Ilmiah Sesar Waikabubak dalam Peta PuSGeN 2024

Sesar Waikabubak dikategorikan sebagai sumber gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake). Dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 yang dirilis Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), sesar ini kini secara resmi dimasukkan sebagai sumber gempa aktif baru yang diperhitungkan dalam pemodelan bahaya gempa nasional.

Data PuSGeN 2024 menunjukkan karakteristik Sesar Waikabubak meliputi panjang patahan 232 kilometer, kemiringan bidang (dip) 60 derajat ke arah selatan, laju pergeseran (slip rate) 0,5 milimeter per tahun, dan potensi magnitudo maksimum (M max) sebesar 7,4.

Daryono menegaskan bahwa M max 7,4 adalah batas ilmiah maksimum kekuatan gempa yang dapat dilepaskan sesar tersebut, bukan prediksi terjadinya gempa sebesar itu dalam waktu dekat. Hingga kini, belum ada teknologi yang mampu memprediksi waktu pasti terjadinya gempa.

Langkah Strategis Penguatan Mitigasi Bencana

Mengingat guncangan gempa dangkal dapat merusak infrastruktur secara mendadak di sekitar episenter, fokus utama wilayah Sumba harus dialihkan pada kesiapsiagaan fisik dan peningkatan kapasitas masyarakat. Dampak kerusakan gempa sangat dipengaruhi oleh kedalaman, jarak episenter, kondisi tanah, serta kualitas konstruksi bangunan.

Selain ancaman sesar dangkal, sejarah mencatat Sumba pernah dilanda gempa dahsyat bermagnitudo 8,3 pada 19 Agustus 1977 yang memicu tsunami mematikan. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman tsunami dapat bersumber dari megathrust maupun patahan aktif bawah laut lainnya.

Langkah mitigasi mendesak yang perlu diterapkan meliputi:

  • Penerapan standar konstruksi bangunan tahan gempa pada fasilitas publik dan permukiman.
  • Penyusunan dan pembaruan peta bahaya tsunami yang akurat.
  • Pemasangan serta penyiapan jalur dan titik evakuasi yang jelas di pemukiman pesisir.
  • Penguatan sistem peringatan dini berbasis komunitas dan teknologi.
  • Pelaksanaan latihan simulasi evakuasi secara berkala untuk membangun budaya siaga.

Pulau Sumba terletak pada busur kepulauan Nusa Tenggara yang diapit oleh konvergensi Lempeng Indo-Australia di selatan dan struktur sesar naik busur belakang (back-arc thrust) di utara. Kondisi geologi yang kompleks ini menjadikan kawasan Nusa Tenggara sebagai salah satu laboratorium tektonik paling aktif di Indonesia.

Meskipun wilayah ini memiliki sejarah kegempaan yang panjang, pembangunan infrastruktur dan pemukiman penduduk di kawasan pesisir terus meningkat pesat. Tanpa diikuti penerapan standar bangunan tahan gempa serta pemahaman peta risiko bencana yang menyeluruh, tingkat kerentanan masyarakat terhadap ancaman gempa kerak dangkal maupun tsunami akan tetap tinggi. Pembaharuan data PuSGeN 2024 menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah untuk mengintegrasikan Peta Risiko Bencana ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Tinggalkan komentar