Emas Terancam Turun ke Level US$ 4.000, Analis Wall Street Ungkap Prospek Pesimistis

Sejumlah analis di Wall Street mengeluarkan prospek bearish atau pesimistis terhadap harga emas untuk sepekan ke depan. Proyeksi ini mengindikasikan potensi penurunan harga logam mulia tersebut dalam waktu dekat.

Analis pasar senior di FxPro, Alex Kuptsikevich, memperkirakan harga emas akan cenderung turun. Ia menyoroti bahwa harga emas telah mengalami penurunan dalam lima dari enam minggu terakhir, sempat merosot hingga sedikit di bawah US$ 4.100 per troy ounce pada awal pekan. Upaya pemulihan harga setelahnya justru disambut dengan aksi jual di dekat level US$ 4.200 per troy ounce.

Kuptsikevich menyebut, para investor tampaknya mulai beralih dari emas dan menanti gelombang aksi jual besar-besaran pada obligasi pemerintah AS dan Eropa mereda. “Kemungkinan besar permintaan terhadap aset berisiko terus menurun, berpotensi menyeret kembali harga emas untuk menguji level US$ 4.000 per troy ounce. Jika skenario negatif terjadi dalam jangka pendek (kenaikan imbal hasil obligasi, penguatan dolar AS, dan pelemahan pasar saham), kita mungkin akan melihat harga emas berada di bawah tekanan,” ia memperingatkan.

Senada, presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day, juga memprediksi harga emas bakal kembali terkoreksi, namun ia meyakini koreksi tersebut tidak akan berlangsung lama. “Berakhirnya perang akan membuat dolar AS kembali melemah di tengah defisit fiskal yang sangat besar, sementara jeda dalam kenaikan suku bunga Federal Reserve akan memberikan sedikit kelegaan bagi harga emas,” ucapnya.

Sementara itu, Sean Lusk, direktur bersama bidang lindung nilai komersial di Walsh Trading, menyoroti harga emas yang gagal melanjutkan tren kenaikan setelah data ketenagakerjaan AS yang lemah menurunkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed. “Saya pikir, dengan turunnya harga minyak mentah, naiknya pasar saham, dan dolar AS yang berada di bawah tekanan, harga emas akan naik. Reaksi awalnya memang positif, namun kini justru negatif, dan harga emas tidak mampu mempertahankan momentum kenaikan. Pasar saham melonjak tinggi, tetapi imbal hasil obligasi juga naik, dan itulah faktor utama yang menekan harga logam mulia saat ini,” katanya.

Tinggalkan komentar