Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Endang Setyawati Thohari, mengusulkan penguatan peran sapi lokal dan koperasi peternak sebagai strategi krusial untuk mencapai kemandirian susu nasional. Langkah ini dinilai penting guna menekan ketergantungan pada produk susu impor dan sekaligus meningkatkan taraf hidup peternak di dalam negeri.
Endang menjelaskan bahwa pengembangan sapi lokal harus dilakukan secara komprehensif. Ini mencakup perlindungan terhadap sumber daya genetik, pemanfaatan teknologi reproduksi yang mutakhir, penguatan kerangka regulasi, hingga perluasan akses permodalan bagi para peternak.
Ia menekankan bahwa sapi lokal, yang telah terbukti mampu beradaptasi dengan kondisi iklim dan lingkungan Indonesia, merupakan aset berharga yang wajib dilindungi dan dikembangkan. Pengalamannya merintis program pengamanan sumber daya genetik sapi lokal pada era 1990-an menjadi pengingat akan pentingnya hal ini. “Saya teringat bagaimana dulu saya merintis program untuk mengamankan sapi-sapi potensi lokal. Sumber daya genetik yang sudah beradaptasi dengan lingkungan harus kita amankan karena ini merupakan aset dan bagian dari kedaulatan pangan kita,” ujar Endang usai kunjungan kerja ke Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur, Pasuruan, Jawa Timur, Rabu (30/9/2026).
Sebagai kader partai yang dipimpin Prabowo Subianto, Endang menilai penguatan sektor peternakan nasional harus berfokus pada pembangunan kemandirian pangan. Peningkatan produksi susu dalam negeri perlu diprioritaskan dengan menjadikan peternak dan koperasi lokal sebagai aktor utama.
Lebih lanjut, Endang menegaskan bahwa perlindungan sumber daya genetik sapi lokal harus diperkuat melalui regulasi yang memadai, termasuk penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) Sumber Daya Genetik. Badan Karantina juga memiliki peran vital dalam mencegah keluarnya sumber daya genetik Indonesia ke luar negeri tanpa perlindungan yang semestinya.
“Kita harus menyusun kembali Undang-Undang tentang Sumber Daya Genetik. Genetik-genetik kita harus diamankan. Badan Karantina juga mempunyai peran penting untuk memastikan tidak terjadi pelarian sumber daya genetik kita ke luar negeri,” tegasnya.
Endang juga mendesak pemerintah untuk memberikan dukungan yang lebih spesifik bagi pengembangan sapi lokal yang telah terbukti unggul dalam adaptasi lingkungan dan produksi susu. Ia mengingatkan agar pola bantuan tidak diseragamkan, mengingat perbedaan kondisi lingkungan dan potensi ternak di setiap daerah.
“Bantuan pemerintah harus dispesialkan untuk sapi-sapi atau potensi lokal yang sudah beradaptasi dengan baik. Jangan disamakan, karena ini merupakan keunggulan keanekaragaman hayati kita yang perlu dipertahankan dan dikembangkan,” jelasnya.
Selain aspek perlindungan genetik dan dukungan pemerintah, Endang menyoroti pentingnya pengembangan teknologi inseminasi buatan. Teknologi ini krusial untuk meningkatkan kualitas genetik sekaligus produktivitas ternak lokal.
Akses permodalan juga perlu diperluas agar peternak dapat mengembangkan usahanya secara berkelanjutan. Menurut Endang, tanpa dukungan pembiayaan yang memadai, potensi besar peternakan lokal akan sulit berkembang secara optimal.
Endang juga mendorong pemberian penghargaan, termasuk mekanisme royalti, kepada para peneliti dan peternak yang telah berkontribusi dalam menjaga dan mengembangkan sumber daya genetik sapi lokal, seperti sapi Grati. “Perlu juga diperhatikan royaltinya untuk para peneliti dan peternak yang selama ini mengamankan dan mengembangkan genetik sapi Grati. Mereka harus mendapatkan penghargaan atas kontribusinya. Selain itu, akses permodalan bagi para peternak juga perlu diperhatikan,” ujarnya.
Dalam upaya mewujudkan kemandirian susu nasional, Endang menegaskan bahwa hasil produksi peternak dalam negeri harus menjadi prioritas utama. Kebijakan impor susu perlu dikelola dengan hati-hati agar tidak melemahkan posisi peternak dan koperasi susu lokal. “Jangan sampai kita terus mengimpor susu. Yang harus kita utamakan adalah hasil dari sapi-sapi lokal kita. Kita sudah hampir 50 tahun mengadaptasi sapi-sapi impor agar bisa beradaptasi dengan lingkungan. Jangan menyerah begitu saja. Kalau memang membutuhkan, kita impor sapinya, bukan susunya,” imbuhnya.