Indeks-indeks saham utama di Wall Street berhasil mengakhiri perdagangan Kamis (1/10/2026) dengan catatan positif, mengawali bulan Oktober dengan penguatan tipis. Kenaikan ini terjadi setelah imbal hasil (yield) Obligasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan penurunan dari level tertinggi yang dicapai dalam lebih dari dua dekade. Sektor saham teknologi menjadi penopang utama penguatan, meskipun kenaikan harga minyak sempat membatasi laju indeks secara keseluruhan.
Indeks S&P 500 tercatat naik 0,19% dan ditutup pada angka 7.666,45. Sementara itu, Nasdaq Composite mengalami penguatan tipis sebesar 0,04% ke level 26.871,60. Dow Jones Industrial Average juga mencatat kenaikan, bertambah 20,51 poin atau 0,04% menjadi 50.926,56.
Pergerakan pasar saham sepanjang hari berlangsung cukup berombak. Hal ini dipicu oleh imbal hasil obligasi 10 tahun yang sempat menyentuh angka 5,344%, sebuah level tertinggi yang belum pernah terjadi sejak tahun 2002. Imbal hasil obligasi pemerintah AS dengan tenor 30 tahun pun turut menembus level tertinggi dalam 24 tahun terakhir.
Namun, tren kenaikan imbal hasil tersebut tidak berlangsung lama. Menjelang penutupan perdagangan, yield obligasi 10 tahun berbalik arah dan turun sekitar 5 basis poin. Yield 30 tahun terkoreksi 3 basis poin, sementara yield tenor 2 tahun menunjukkan penurunan yang lebih signifikan, yaitu sekitar 10 basis poin.
Pergerakan pasar saham belakangan ini memang menunjukkan sensitivitas yang tinggi terhadap perubahan yield obligasi. Kenaikan yield cenderung menekan harga saham, karena imbal hasil obligasi yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang bagi investor yang memegang aset berisiko.
“Saya pikir ada sedikit kelelahan di pasar obligasi. Kami telah bergerak 50 basis poin dalam 18 hari perdagangan setelah Ketua The Fed Kevin Warsh mengisyaratkan di Jackson Hole bahwa kenaikan suku bunga memang akan terjadi,” ujar CEO KKM Financial, Jeff Kilburg. Menurut Kilburg, ada optimisme bahwa lonjakan yield menuju 5% dapat bersifat sementara, namun hal ini masih sangat bergantung pada perkembangan situasi konflik Iran.
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah juga menjadi faktor yang membatasi penguatan Wall Street. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 2,7% menjadi US$92,87 per barel, seiring dengan perhatian investor yang tertuju pada langkah selanjutnya Presiden AS Donald Trump terkait konflik Iran.
Saham Teknologi Menunjukkan Kekuatan
Di tengah gejolak yang terjadi di pasar obligasi dan harga minyak, saham-saham di sektor teknologi memberikan kontribusi signifikan dalam menopang Wall Street. Salah satu saham yang menonjol adalah Micron Technology, yang ditutup dengan kenaikan sekitar 3% setelah perusahaan melaporkan kinerja kuartalan yang sangat kuat.
Micron melaporkan pertumbuhan pendapatan yang hampir empat kali lipat pada kuartal terakhir. Perusahaan juga berhasil mencatat margin laba sebesar 87%. Meskipun ada rencana kenaikan upah pekerja yang diperkirakan dapat menekan margin, angka tersebut tetap melampaui ekspektasi pasar.
“Kami sangat senang dan bangga dapat memberikan insentif kepada anggota tim sejalan dengan kinerja kami yang mencatat rekor,” ujar CEO Micron, Sanjay Mehrotra. Penguatan saham teknologi ini secara efektif membantu Wall Street bertahan di zona hijau, setelah sebelumnya sempat tertekan oleh lonjakan yield obligasi. Dengan demikian, indeks S&P 500 berhasil mengakhiri rangkaian penurunan yang terjadi selama tiga sesi perdagangan sebelumnya.