Rupiah Tertekan Dolar AS Akibat Data Inflasi dan Neraca Perdagangan

Nilai tukar rupiah (IDR) kembali anjlok terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan hari Kamis, 1 Oktober 2026. Pada perdagangan sore ini, nilai tukar rupiah ditutup melemah 72 poin (0,40%) ke level Rp 17.966 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.894 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa rupiah tidak berhasil terangkat meski Indonesia merilis kinerja surplus neraca perdagangan pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar US$ 3,55 miliar per Agustus 2026. Surplus ini ditopang oleh kinerja ekspor Indonesia yang mencapai US$ 26,61 miliar, melampaui nilai impor US$ 23,06 miliar per Agustus 2026. BPS mencatat nilai ekspor RI mencapai US$ 26,61 miliar atau naik 6,72% secara tahunan pada Agustus 2026.

Adapun inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat naik sebesar 0,30% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan mencapai 3,28% secara tahunan.

Dari sisi eksternal, rupiah melemah di tengah proses negosiasi antara AS dan Iran untuk mencapai perdamaian atas konflik di Timur Tengah yang belum membuahkan hasil. Pada hari Rabu, Iran menyatakan telah menerima tanggapan AS atas usulan terbarunya untuk memulihkan gencatan senjata, setelah Presiden Donald Trump menolak rencana sebelumnya yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai respons atas pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Dari sisi sentimen terkait ekonomi, rupiah kembali melemah setelah AS merilis kenaikan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang tidak mencakup komponen makanan dan energi sebesar 0,2% pada bulan Agustus. Angka ini berada di bawah perkiraan, sehingga memberikan sedikit kelegaan bagi pasar terkait prospek inflasi.

“Data tersebut mendorong para pelaku pasar untuk memangkas secara tajam ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan Oktober. Probabilitas tersirat turun menjadi sekitar 34%, dari sebelumnya hampir 70% pada awal pekan,” beber Ibrahim dalam keterangan tertulis yang dibagikan pada Kamis (1/10/2026).

Tinggalkan komentar