JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyatakan bahwa bank sentral akan memperluas penggunaan mata uang selain dolar Amerika Serikat (AS) dalam transaksi perdagangan dan investasi. Langkah ini diambil di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang kembali mendekati level Rp 17.978 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (28/9/2026).
Nilai tukar rupiah tercatat ditutup melemah 75 poin atau 0,42% ke level Rp 17.978 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.903 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah ini menjadikan diversifikasi penggunaan valuta asing (valas) sebagai salah satu fokus BI dalam upaya memperkuat ketahanan pasar keuangan.
Destry menjelaskan bahwa BI perlu mengurangi dominasi dolar dalam transaksi lintas negara dengan memperluas penggunaan mata uang lain. “Kita menghadapi tantangan global dengan dolar juga yang semakin meningkat, sehingga ini tentunya kita perlu melakukan diversifikasi dari mata uang valas lainnya dalam rangka mendukung kegiatan ekspor ataupun investasi di Indonesia,” kata Destry dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Salah satu instrumen yang diperkuat adalah Local Currency Transaction (LCT). Skema ini memungkinkan pelaku usaha untuk melakukan transaksi perdagangan dan investasi menggunakan mata uang lokal Indonesia dan negara mitra, tanpa harus selalu menggunakan dolar AS sebagai perantara.
Destry menambahkan bahwa volume transaksi LCT terus mengalami peningkatan. Namun, peningkatan transaksi ini belum sepenuhnya diikuti oleh ketersediaan mata uang negara mitra yang memadai di pasar uang dan pasar valuta asing domestik. “Volume Local Currency Transaction terus mengalami penguatan, namun memang PR-nya adalah belum diikuti dengan likuiditas local currency tersebut di pasar uang dan valas kita,” ujarnya.
BI akan berupaya memperkuat ketersediaan Renminbi dan Yen di pasar domestik. Untuk mata uang Tiongkok, penguatan likuiditas mencakup CNY dan CNH agar kebutuhan transaksi dengan mitra dagang dan investor dapat lebih mudah dipenuhi. “Kami mulai terus mendorong penguatan untuk likuiditas, baik itu Renminbi, CNH, CNY, dan juga untuk likuiditas Yen,” ungkap Destry.
Likuiditas mata uang yang lebih dalam sangat dibutuhkan agar pelaku usaha dan investor memiliki lebih banyak pilihan dalam bertransaksi. Kebijakan ini juga diharapkan dapat mengurangi kebutuhan konversi transaksi melalui dolar AS.
Selain memperkuat penggunaan mata uang lokal, BI juga akan memperluas instrumen lindung nilai atau hedging. Instrumen ini digunakan untuk mengurangi risiko kerugian akibat perubahan nilai tukar, terutama bagi investor asing dan pelaku usaha yang memiliki transaksi dalam valuta asing. “Kita terus memperluas produk untuk mekanisme hedging yang dapat dimanfaatkan oleh investor asing dan pelaku pasar,” ujar Destry.
Diversifikasi valas, penguatan LCT, peningkatan likuiditas Renminbi dan Yen, serta pengembangan instrumen hedging menjadi bagian dari strategi BI untuk memperdalam pasar uang dan valas. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperluas penggunaan mata uang negara mitra sekaligus mengurangi ketergantungan transaksi perdagangan dan investasi terhadap dolar AS.