Jakarta Tingkatkan Riset dan Kolaborasi untuk Menjadi Kota Global

Jakarta terus berupaya keras untuk masuk dalam jajaran 20 kota global teratas pada tahun 2045. Upaya ini membutuhkan penguatan kebijakan yang berbasis pada riset, kolaborasi antarberbagai sektor, serta strategi komprehensif yang mencakup infrastruktur, lingkungan, dan aspek sosial-ekonomi.

Hal ini menjadi fokus utama dalam Simposium Internasional bertajuk “Towards Jakarta 500: Building a Resilient and Inclusive City” yang diselenggarakan oleh Sampoerna University bekerja sama dengan Pusat Riset dan Inovasi Daerah (PRID) Bappeda Provinsi DKI Jakarta. Acara ini berlangsung dari 22 hingga 24 September 2026.

Target menjadi kota global sejalan dengan arah pembangunan jangka panjang Jakarta. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 telah menetapkan Jakarta sebagai pusat perekonomian nasional dan kota global. Sementara itu, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025–2045 mengusung visi “Jakarta Kota Global, Berdaya Saing, Berkelanjutan, dan Sejahtera.” Lebih lanjut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga telah merilis kerangka Jakarta RISE 20 yang bertujuan mendorong Jakarta masuk dalam 20 kota global teratas pada 2045.

Dalam simposium tersebut, pembahasan dibagi menjadi tiga kelompok utama: infrastruktur, lingkungan, serta sosial dan ekonomi. Berbagai isu penting diangkat, termasuk mobilitas yang terintegrasi, tata kelola digital, transportasi rendah karbon, pembiayaan pembangunan, ketahanan terhadap perubahan iklim, transisi menuju energi bersih, pengelolaan sampah yang efektif, peningkatan daya saing ekonomi, perkembangan fintech, dukungan untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta pengembangan sumber daya manusia.

Kegiatan berskala internasional ini melibatkan 28 pembicara dari sekitar 25 institusi dan organisasi yang berasal dari enam negara. Lebih dari 200 peserta dari lebih dari 60 institusi turut berpartisipasi. Sejumlah lembaga terkemuka yang terlibat dalam simposium ini antara lain Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), World Bank, JICA Indonesia, dan University of Nottingham.

Peran Akademisi dalam Pembangunan Kota

Dekan Faculty of Engineering and Technology Sampoerna University sekaligus Symposium Chair, Dr. Farid Triawan, menekankan peran penting perguruan tinggi dalam menyediakan kajian dan perspektif akademik yang dapat mendukung pembangunan kota. “Melalui simposium ini, kami tidak hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga belajar dari berbagai perspektif yang hadir. Kami berharap keahlian dan riset yang kami bawa dapat memperkaya pembahasan serta menghasilkan insight yang relevan bagi pembangunan Jakarta,” ujarnya.

Farid menambahkan bahwa keterlibatan akademisi sangat krusial karena tantangan perkotaan yang kompleks tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan satu disiplin ilmu atau satu sektor saja.

Arah Riset Berbasis Persoalan Nyata

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan Adziman, mengungkapkan bahwa arah kebijakan riset perlu lebih berfokus pada persoalan nyata yang dihadapi oleh daerah. Ia menjelaskan bahwa setiap proposal riset harus menyertakan argumentasi masalah yang jelas (problem statement), relevansi dengan kebutuhan daerah, serta potensi penerapannya di lapangan.

Menurut Fauzan, pendekatan ini penting agar perguruan tinggi tidak hanya berhenti pada produksi pengetahuan, tetapi juga dapat bekerja lebih erat dengan pemerintah dan industri untuk menghasilkan solusi yang aplikatif. “Kita perlu bergerak dari market fixing menuju market shaping, dari sekadar merespons masalah ketika terjadi menjadi membangun ekosistem yang memungkinkan kita mengantisipasi dan menyelesaikannya sejak awal,” katanya. Fauzan juga menambahkan bahwa riset seharusnya tidak hanya berangkat dari topik yang menarik secara akademik, tetapi juga dari persoalan yang benar-benar membutuhkan penyelesaian.

Daya Saing Melampaui Infrastruktur Fisik

Kepala Pusat PRID Bappeda DKI Jakarta, Maruhal Mangasi Tunas Sijabat, menyatakan bahwa pembangunan kota global tidak semata-mata ditentukan oleh infrastruktur fisik. “Menjadi kota global bukan hanya tentang membangun infrastruktur, tetapi juga membangun manusia, pengetahuan, dan ekosistem yang mendukung inovasi,” ucapnya.

Maruhal menjelaskan bahwa penguatan pendidikan tinggi, riset, dan inovasi merupakan bagian integral dari upaya meningkatkan daya saing Jakarta menuju usia 500 tahun. Pendekatan ini sejalan dengan RPJPD 2025–2045 yang menempatkan peningkatan produktivitas, daya saing, inovasi, kualitas sumber daya manusia, dan tata kelola sebagai arah pembangunan jangka panjang Jakarta.

Selain pengembangan talenta, simposium juga menyoroti kebutuhan pembiayaan infrastruktur, transformasi transportasi, pengendalian polusi udara, pengelolaan sampah, ekonomi sirkular, serta penguatan investasi dan ekonomi digital. Di bidang sosial-ekonomi, diskusi mencakup iklim investasi, integrasi Jakarta dalam rantai nilai regional dan global, pengembangan ekosistem fintech, peningkatan produktivitas UMKM, dan kemitraan publik-swasta di sektor kesehatan.

Hasil pembahasan selama tiga hari simposium ini dijadwalkan akan dirangkum dalam Policy Recommendation dan Symposium Completion Report. Dokumen-dokumen tersebut akan disampaikan sebagai masukan berharga bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam penyusunan kebijakan pembangunan kota. Dengan berbagai tantangan yang saling berkaitan, mulai dari infrastruktur hingga daya saing ekonomi, penguatan hubungan antara riset dan proses pengambilan kebijakan menjadi kunci penting dalam perjalanan Jakarta menuju target sebagai kota global pada 2045.

Tinggalkan komentar