Bank Indonesia (BI) memperkirakan nilai tukar rupiah akan menunjukkan pemulihan pada triwulan IV tahun 2026. Proyeksi ini didasarkan pada prediksi penurunan kebutuhan valuta asing (valas) oleh para importir yang diperkirakan mencapai puncaknya pada triwulan III.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa tingginya pemenuhan kebutuhan impor pada triwulan III menyebabkan lonjakan permintaan valas dan melemahnya rupiah. “Bacaan kita di akhir tahun biasanya lebih rendah daripada kuartal III. Sehingga dengan upaya-upaya yang kita lakukan kita berharap setelah lewat kuartal III-2026 ini kita bisa better off sampai dengan akhir tahun,” ujar Erwin dalam taklimat media di Kantor Bank Indonesia, Rabu (30/9/2026).
Erwin mengakui bahwa stabilitas nilai tukar rupiah bersifat dinamis dan rentan terhadap tekanan perekonomian global. BI berkomitmen untuk terus hadir di pasar keuangan guna mengantisipasi dampak negatif tersebut. “Lagi-lagi saya sampaikan dinamika global itu gak ada yang bisa kendalikan sehingga sifat kita adalah kita merespon dengan ruang yang ada dan kebijakan yang kita miliki,” tuturnya.
Menurut Erwin, fundamental ekonomi, khususnya neraca transaksi berjalan, sangat memengaruhi pergerakan kurs rupiah. Defisit pada transaksi berjalan akan meningkatkan permintaan valas. “Ketika suatu negara transaksi berjalannya itu defisit artinya kan kebutuhan valuta asingnya kan lebih gede daripada produksinya sehingga pergerakan nilai tukarnya akan bergerak mengikuti situasi itu,” jelasnya.
BI berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi pasar keuangan dan koordinasi dengan pemangku kepentingan untuk memperbaiki struktur perekonomian. Data BI per 29 September 2026 menunjukkan depresiasi rupiah sebesar 7,74% secara year to date terhadap posisi akhir tahun 2026. Angka ini dinilai masih lebih baik dibandingkan negara lain seperti Korea (15,6%), Filipina (8,7%), dan Malaysia (8,59%). “Kalau dari sisi pemahaman nilai tukar rupiah bergerak beriringan dengan peers kita,” kata Erwin.
Pada perdagangan Rabu (30/9/2026) pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah dibuka menguat 60 poin (0,33%) ke level Rp 17.921 per dolar AS, sementara dolar AS menguat 0,01% di level 101.382. Data ini berdasarkan Bloomberg.
Lebih lanjut, Erwin menambahkan bahwa BI juga berupaya menyeimbangkan lalu lintas modal asing. Berbagai insentif diberikan untuk mendorong masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, dengan tujuan menarik investor asing untuk menempatkan dananya di Indonesia. “Dengan kebijakan-kebijakan yang kita lakukan dan tentu diantara itu upaya kita untuk menjaga stabilitas nilai rupiah. Ini juga menjadi bagian dari komitmen Bank Indonesia agar stabilitas tetap terjaga memberikan kepastian kepada seluruh pelaku ekonomi untuk melakukan keputusan-keputusan ekonominya,” pungkas Erwin.