Ribuan Pelajar Jakarta Utara & Kepulauan Seribu Alami Gangguan Mata

JAKARTA – Lebih dari 3.500 pelajar di wilayah Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu telah menjalani pemeriksaan kesehatan mata sejak April 2026. Hasil pemeriksaan menunjukkan sekitar 1.000 pelajar mengalami gangguan mata yang memerlukan tindak lanjut, seperti pemberian kacamata korektif dan vitamin mata.

Pemeriksaan ini merupakan bagian dari program “Mata Cemerlang, Prestasi Gemilang” yang diselenggarakan oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melalui Bakti BCA. Kegiatan ini mencakup 16 sekolah, dan seremoni penyerahan bantuan kacamata telah dilaksanakan di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu.

Direktur BCA, Antonius Widodo Mulyono, menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan mata. Menurutnya, gangguan penglihatan dapat berdampak signifikan pada proses belajar mengajar serta menurunkan tingkat kepercayaan diri para pelajar. “Kesehatan mata kini telah menjadi salah satu tantangan krusial yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Kami berharap pemeriksaan sejak dini dan dukungan kacamata korektif dapat membantu para pelajar melihat dengan lebih baik, sehingga mereka dapat belajar dan berkembang secara lebih optimal,” ujarnya.

Widodo menambahkan bahwa data dari pemeriksaan ribuan pelajar mengindikasikan perlunya perhatian lebih pada kesehatan mata, terutama di kalangan anak dan remaja yang semakin intensif menggunakan perangkat digital. Sekitar 3,6 juta anak di Indonesia dilaporkan masih mengalami kelainan refraksi yang belum tertangani dengan kacamata, kondisi ini berpotensi memengaruhi tumbuh kembang dan kualitas hidup mereka.

Pelaksanaan pemeriksaan di Kepulauan Seribu secara khusus dirancang untuk menjangkau pelajar di wilayah dengan tantangan akses layanan kesehatan. Kendala geografis kepulauan seringkali membuat layanan pemeriksaan mata sulit dijangkau, baik dari sisi tenaga medis maupun fasilitas. Oleh karena itu, pemeriksaan dilakukan langsung di sekolah-sekolah untuk memfasilitasi deteksi dini tanpa memerlukan perjalanan jauh bagi para pelajar.

Program ini melanjutkan inisiatif serupa yang telah dilaksanakan di Bandung Raya pada tahun 2025. Saat itu, lebih dari 2.100 pelajar di lima sekolah mengikuti pemeriksaan mata, dan lebih dari 300 bantuan kacamata korektif serta vitamin mata diberikan kepada pelajar yang membutuhkan.

Rano Karno Soroti Penggunaan Gawai

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, turut menyuarakan keprihatinannya terkait penggunaan telepon genggam, laptop, dan komputer yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas harian anak-anak. Ia menekankan pentingnya kedisiplinan dalam mengatur waktu penggunaan perangkat digital.

“Pesan saya untuk anak-anak, kalian perlu disiplin dalam menggunakan handphone maupun komputer karena terkadang kita tidak sadar kalau sudah terlalu lama dan dapat mengganggu kesehatan mata,” ujar Rano.

Rano juga berbagi pengalaman pribadi mengenai gangguan mata yang dialaminya saat tekanan darah meningkat. Ia sempat dianjurkan untuk membatasi penggunaan telepon genggam dan komputer selama kurang lebih dua minggu setelah mendapatkan penanganan. Pengalaman ini menjadi pengingat baginya akan pentingnya menjaga kesehatan mata sejak dini.

Dalam sesi dialog dengan sejumlah pelajar penerima manfaat, salah seorang siswa mengaku baru mengetahui dirinya mengalami mata minus dan silinder setelah mengikuti pemeriksaan. Widodo berharap bantuan kacamata yang dibagikan dapat membantu pelajar belajar dengan lebih nyaman dan meningkatkan kepercayaan diri serta prestasi mereka.

Sementara itu, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menjelaskan bahwa Kepulauan Seribu menjadi salah satu fokus utama program tahun ini. Ia menyoroti keterbatasan akses layanan kesehatan mata di wilayah kepulauan, baik dari segi ketersediaan tenaga medis maupun fasilitas pemeriksaan. “Melalui program Mata Cemerlang, Prestasi Gemilang dengan melakukan pemeriksaan dan deteksi dini gangguan penglihatan bagi pelajar, BCA berupaya memperluas akses kesehatan mata bagi pelajar, termasuk mereka yang berada di wilayah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan,” ungkapnya.

Tinggalkan komentar