JAKARTA – Cara Donald Trump menghadapi pemberitaan kritis dari media seperti CNN, MS NOW, dan Politico pada September 2026 menarik perhatian. Presiden Amerika Serikat tersebut tidak hanya membantah isi berita, tetapi juga mencabut akses ketiga media tersebut ke Gedung Putih. Trump menuduh mereka menyebarkan berita bohong atau ‘fake news’ dan mengaitkannya dengan ancaman keamanan nasional.
Tindakan ini memicu gugatan dari CNN, MS NOW, dan Politico ke pengadilan. Mereka menilai pencabutan akses tersebut melanggar kebebasan pers dan merupakan tindakan balasan atas pemberitaan kritis. Sejumlah pakar hukum yang diwawancarai Reuters bahkan mempertanyakan dasar konstitusional kebijakan tersebut.
Di Argentina, fenomena yang lebih eksplisit terlihat pada Javier Milei. Sejak Desember 2023 hingga September 2025, akun X Milei tercatat mengunggah 16.806 ekspresi ofensif dari total 113.649 unggahan, menurut penelitian Foro de Periodismo Argentino (FOPEA). Sebesar 15,2 persen unggahan tersebut mengandung ekspresi ofensif yang menyasar jurnalis dan pemimpin opini. Penelitian ini bahkan diberi judul ‘El insulto como estrategia’, yang berarti penghinaan sebagai strategi.
Kedua fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: apa yang terjadi ketika seorang pemimpin atau lembaga tidak lagi sekadar menjawab kritik, tetapi mulai menyerang individu yang menyampaikan kritik tersebut?
Dalam ilmu komunikasi, sikap defensif bukanlah hal yang selalu keliru. Teori Perbaikan Citra (Image Repair Theory) oleh William L. Benoit menjelaskan bahwa ketika reputasi terancam, seseorang atau organisasi memiliki beberapa pilihan respons. Pilihan tersebut meliputi menyangkal, mengurangi persepsi tanggung jawab, mengurangi daya rusak tuduhan, melakukan tindakan korektif, hingga mengakui kesalahan.
Teori Komunikasi Krisis Situasional (SCCT) oleh W. Timothy Coombs juga memaparkan spektrum respons terhadap krisis, salah satunya adalah strategi ‘deny’ yang mencakup ‘attack the accuser’, yaitu menghadapi penuduh atau mempertanyakan kredibilitasnya.
Namun, masalah muncul ketika terjadi pergeseran respons dari ‘defending the issue’ menjadi ‘attacking the critic’. Awalnya, respons berfokus pada substansi kritik, misalnya, “Kritik tersebut tidak tepat, dan berikut fakta yang kami miliki.” Namun, ketika respons bergeser menjadi menyerang orang yang menyampaikan kritik, pesannya berubah menjadi, “Kritik itu tidak perlu dipercaya karena orang yang menyampaikannya bermasalah.”
Fokus komunikasi bergeser dari membahas apa yang dikritik menjadi mempersoalkan siapa yang mengkritik. Jika pola ini berlanjut, dapat terjadi proses delegitimasi, di mana bukan lagi argumen yang diuji dengan fakta, melainkan kredibilitas dan kelayakan seseorang untuk menyampaikan kritiklah yang dipersoalkan.
Strategi semacam ini berpotensi menghasilkan tiga efek utama. Pertama, delegitimasi, di mana perhatian terhadap substansi kritik berkurang karena kredibilitas pengkritik berhasil dipersoalkan. Kedua, agenda shifting, di mana pertanyaan publik bergeser dari “Apakah kebijakan ini benar?” menjadi “Siapa sebenarnya orang yang mengkritik?” Ketiga, in-group mobilization, di mana kritik terhadap pemimpin dibingkai sebagai serangan terhadap kelompok, nilai, atau agenda bersama, sehingga konfrontasi justru memperkuat solidaritas pendukung.
Oleh karena itu, komunikasi agresif tidak otomatis merugikan reputasi pemimpin di semua kelompok publik. Sebagian pendukung dapat membacanya sebagai ketegasan, keberanian, bahkan autentisitas. Namun, reputasi tidak hanya dibangun di hadapan mereka yang sudah setuju.
Data FOPEA menunjukkan pola komunikasi Milei terus menjadi perhatian pada 2026. Pada Juli tahun itu, lembaga tersebut mencatat empat kasus yang dikategorikan sebagai ‘discurso estigmatizante’ (ujaran stigmatisasi) terhadap pers atau jurnalis. FOPEA, sebagai organisasi yang bergerak dalam kebebasan pers, tentu membaca kategorisasi ini dalam konteks posisinya. Namun, data tersebut memperlihatkan bagaimana konflik antara pemimpin dan lembaga dengan media dapat berkembang menjadi isu komunikasi tersendiri.
Dalam komunikasi krisis, dikenal istilah ‘double crisis’. Krisis pertama berasal dari persoalan awal, sementara krisis kedua muncul akibat cara organisasi atau pemimpin merespons persoalan tersebut. Pada kasus Trump, perdebatan mengenai pemberitaan berkembang menjadi sengketa mengenai akses media dan kebebasan pers, yang bahkan dibawa ke pengadilan federal oleh tiga media pada September 2026. Ini menunjukkan bahwa komunikasi yang seharusnya menjadi instrumen penyelesaian persoalan justru dapat menciptakan masalah baru.
Ada pula risiko yang lebih jarang dibicarakan, yaitu ‘organizational deafness’ atau ketulian organisasi. Bayangkan sebuah organisasi di mana setiap pembawa kabar buruk dianggap tidak loyal. Lama-kelamaan, orang akan belajar bahwa lebih aman menyampaikan kabar baik. Pemimpin akhirnya dikelilingi informasi yang menyenangkan, namun semakin jauh dari kenyataan. Dalam konteks pemerintahan, perusahaan, atau organisasi publik, kritik sesungguhnya dapat berfungsi sebagai sistem peringatan dini (early warning system).
Kritik tidak selalu benar; ia bisa bias, tidak lengkap, atau bahkan keliru. Oleh karena itu, kritik harus diverifikasi, bukan otomatis dipercaya, dan juga bukan otomatis dimusuhi.
Fenomena Trump dan Milei menarik bukan untuk menentukan siapa pemimpin yang baik atau buruk, melainkan untuk memahami bagaimana kekuasaan berkomunikasi saat menghadapi ketidaksetujuan. Ketika pemerintah, perusahaan, kampus, organisasi, atau bahkan seorang pemimpin menghadapi kritik, pertanyaan pertama seharusnya bukan “Siapa yang menyerang kita?”, melainkan “Adakah sesuatu yang perlu kita dengarkan?”
Jika kritik salah, bantahlah dengan data yang kredibel. Jika informasi tidak lengkap, berikan konteks. Jika organisasi memang salah, akui dan perbaiki. Prinsip dalam Public Relations adalah sederhana: ‘soft on people, firm on facts’. Ketegasan terhadap fakta tidak mensyaratkan kita merendahkan manusianya. Kemampuan menerima kritik bukanlah tanda lemahnya kepemimpinan; justru di situlah kualitas komunikasi seorang pemimpin terlihat, apakah ia menggunakan kekuasaan untuk memenangkan percakapan, atau menggunakan percakapan untuk memperbaiki keputusan.
Reputasi seorang pemimpin tidak hanya dibentuk oleh bagaimana ia berbicara ketika dipuji, tetapi terutama oleh bagaimana ia mendengar ketika dikritik.