Presiden Rusia Vladimir Putin kembali memerintahkan penambahan jumlah personel militer negaranya di tengah perang yang masih berkecamuk di Ukraina. Berdasarkan dekrit kepresidenan yang dirilis di basis data informasi hukum resmi Rusia, total kekuatan angkatan bersenjata Rusia kini ditetapkan mencapai 2.441.630 personel, dengan 1.550.500 di antaranya merupakan tentara aktif.
Penambahan 15.500 prajurit aktif ini menjadi perintah keempat yang dikeluarkan Putin sepanjang tahun ini. Langkah tersebut diambil di tengah besarnya kerugian personel di kedua belah pihak setelah lebih dari empat setengah tahun invasi skala penuh berlangsung. Sejumlah analis menilai kebijakan ini merupakan bagian dari gelombang mobilisasi militer pascapemilihan umum parlemen (State Duma), di mana partai penguasa United Russia meraup kemenangan besar.
Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut Rusia secara efektif telah memulai gelombang mobilisasi baru. Ia memperkirakan saat ini sudah ada lebih dari 8.000 tentara Korut yang berada di wilayah Rusia. “Selain itu, persiapan sedang dilakukan untuk mengerahkan 10.000 tentara lainnya. Mereka sedang dipilih untuk menjalani pelatihan sebelum dikirim ke Rusia,” ujar Zelensky melalui akun media sosialnya.
Sebagai imbalan atas bantuan pasukan tersebut, Zelensky mengungkapkan Rusia memberikan dukungan teknologi militer kepada Korut, termasuk membantu mendirikan fasilitas produksi pesawat nirawak (drone) serang tipe Shahed di Korut. Hubungan militer kedua negara ini kian erat setelah tahun lalu di Beijing, Putin menyampaikan terima kasih secara terbuka kepada Pemimpin Korut Kim Jong Un atas pengiriman pasukan yang dinilainya bertempur secara “berani dan heroik”.
Di medan pertempuran, eskalasi serangan terus meningkat. Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko melaporkan, gelombang serangan udara Rusia di ibu kota Ukraina telah menewaskan dua orang dan melukai 26 warga lainnya. Di sisi lain, diplomasi untuk mencapai titik temu perdamaian mengalami jalan buntu dalam beberapa bulan terakhir, seiring teralihkannya fokus perhatian AS ke konflik lain dengan Iran.
Saat berbicara di Sidang Majelis Umum PBB, Zelensky memperingatkan musim dingin mendatang akan menjadi periode yang berat bagi Rusia jika kesepakatan gencatan senjata tidak tercapai dalam beberapa pekan ke depan. Meski demikian, ia mengakui pemerintah Ukraina juga mencemaskan dampak tantangan musim dingin ekstrem bagi rakyatnya. Perang antara Rusia dan Ukraina yang berlangsung sejak Februari 2022 telah berkembang menjadi konflik perang artikulasi (war of attrition), di mana ketahanan pasokan amunisi dan ketersediaan personel menjadi kunci utama di garis depan.
Penerapan sanksi ekonomi skala besar oleh negara-negara Barat membuat Rusia kian terisolasi secara diplomatik, yang memicu peningkatan kerja sama strategis dengan sekutu lamanya seperti Korut. Bagi Rusia, keterlibatan pasukan serta pasokan logistik dari Korut menjadi solusi instan untuk menutupi tingginya angka kerugian prajurit tanpa perlu memicu keresahan publik domestik akibat mobilisasi massal warga negaranya sendiri. Di sisi lain, pemerintah Korut memanfaatkan situasi ini untuk memperoleh teknologi militer modern dan bantuan ekonomi. Memasuki tahun kelima pertempuran, kombinasi antara stagnasi jalur diplomasi global, pergeseran fokus geopolitik dunia, dan ancaman krisis energi musim dingin kian memperumit prospek perdamaian di kawasan Eropa Timur.