JAKARTA – Peran komunitas perempuan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor perkebunan kini diarahkan untuk berkontribusi pada target pengelolaan lingkungan nasional. Di subholding PTPN III (Persero), PT Perusahaan Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo, komunitas pekerja perempuan (Srikandi) dan Ikatan Keluarga Besar Istri (IKBI) diintegrasikan untuk menjalankan program pembudayaan 5K (Keamanan, Kebersihan, Ketertiban, Keindahan, dan Kekeluargaan) di seluruh wilayah operasional perusahaan.
Penerapan standar 5K ini mencakup kawasan perkebunan, Pabrik Kelapa Sawit (PKS), hingga area pemukiman (emplasemen) karyawan. Inisiatif tersebut sejalan dengan agenda Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang gencar mendorong program pengurangan volume sampah langsung dari sumber rumah tangga.
Sebagai kawasan padat karya, emplasemen perkebunan kelapa sawit dinilai memiliki potensi signifikan dalam penerapan ekonomi sirkular apabila praktik pemilahan sampah domestik dapat dijalankan secara konsisten. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTPN IV PalmCo, yang juga menjabat sebagai Pembina Srikandi PTPN IV, Hilda Savitri, menyatakan bahwa penerapan indikator 5K ditargetkan menjadi bagian dari perilaku keseharian para pekerja, bukan sekadar agenda seremonial tahunan.
“Tujuan utama dari pembudayaan 5K ini adalah menumbuhkan kepedulian yang bertransformasi menjadi habit atau kebiasaan. Lingkungan kerja dan rumah yang tertata serta sehat secara langsung akan memberikan kenyamanan yang berdampak pada peningkatan produktivitas dan semangat kerja para insan perusahaan,” ujar Hilda di Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Menurut Hilda, pelibatan perempuan dalam ekosistem perusahaan kelapa sawit merupakan salah satu bentuk pemberdayaan yang esensial. Keterlibatan ini kini menyentuh area pengambilan keputusan di tingkat keluarga yang berdampak pada kelestarian lingkungan korporasi. “Kolaborasi antara IKBI dan Srikandi memperlihatkan fungsi perempuan dalam menggerakkan perubahan di lingkungan terkecil. Kita mendukung program pemerintah dalam mengelola sampah mulai dari hulu, yakni rumah tangga karyawan. Pemberdayaan perempuan yang utuh adalah ketika mereka memiliki bekal pengetahuan, terlibat mengambil keputusan, dan memimpin inisiatif pelestarian tersebut. Rumusnya berkesinambungan: perempuan berdaya, keluarga tangguh, dan lingkungan terjaga,” paparnya.
Berdasarkan data perusahaan, parameter 5K ini dievaluasi melalui penyelenggaraan kompetisi Lingkungan Hidup dan Rumah Sehat di lingkup PTPN IV PalmCo. Tercatat ada puluhan fasilitas operasional yang berpartisipasi, meliputi 7 unit Pabrik Kelapa Sawit (PKS), 13 unit kebun, serta 13 kawasan rumah sehat karyawan. Pihak manajemen menargetkan wilayah operasional yang dinilai memenuhi kriteria kebersihan dan pengelolaan sampah terbaik akan direplikasi sebagai proyek percontohan (benchmarking) bagi regional PTPN IV PalmCo lainnya.
Sementara itu, dari perspektif pembinaan keluarga karyawan, Ketua IKBI PTPN IV PalmCo, Lina Jatmiko, menggarisbawahi bahwa manajemen lingkungan kawasan korporasi sangat bergantung pada kedisiplinan rumah tangga di emplasemen kebun. Ia menilai aspek ‘Kekeluargaan’ dalam konsep 5K menjadi faktor penentu keberhasilan pengelolaan sampah. “Ibu-ibu di rumah memegang kendali utama dalam menciptakan lingkungan yang sehat. Melalui penerapan 5K, langkah awal dimulai dari hal paling dasar, seperti memilah sampah organik dan non-organik di rumah tangga, serta merawat pekarangan sesuai kriteria Rumah Sehat. Ketika kebersihan dan ketertiban lingkungan sudah terbentuk menjadi norma, interaksi dan suasana kekeluargaan antar warga di emplasemen otomatis akan semakin baik,” ungkap Lina.
Di samping penataan lingkungan fisik, agenda kolaborasi komunitas perempuan PTPN IV PalmCo ini juga dilengkapi dengan peningkatan kapasitas literasi keuangan keluarga melalui seminar bertajuk ‘Jaga Dompet, Jaga Rumah, Jaga Lingkungan’. Pendekatan ini dilakukan manajemen dengan asumsi bahwa kesejahteraan finansial keluarga berdampak pada fokus kerja karyawan di lapangan. “Selain mengelola sampah, ibu-ibu yang berperan layaknya ‘Menteri Keuangan’ di rumah tangga juga memerlukan literasi finansial yang baik. Mereka dibekali pengetahuan untuk menyaring antara kebutuhan dan keinginan, menahan gaya hidup konsumtif, serta menghindari jerat hutang atau pinjaman yang tidak produktif. Ketenangan pikiran di rumah akibat kondisi finansial yang stabil akan memberikan dampak positif bagi para suami saat menjalankan tugas operasional di kebun maupun pabrik,” pungkas Lina.
Keterlibatan komunitas perempuan di sektor agribisnis ini diproyeksikan memberikan dampak ganda. Selain mendukung pemenuhan indikator Environmental, Social, and Governance (ESG) di internal PTPN IV PalmCo, inisiatif manajemen sampah domestik yang terstruktur di area perkebunan ini juga berkontribusi langsung pada target pemerintah dalam menekan volume residu sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).