JAKARTA – PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA), entitas infrastruktur telekomunikasi dan layanan fiber to the home (FTTH) di bawah naungan Grup Sinar Mas, menunjukkan pertumbuhan kinerja signifikan sepanjang semester I-2026. Peningkatan ini terutama dipicu oleh konsolidasi PT Eka Mas Republik atau MyRepublic Indonesia, yang berdampak pada efek penggabungan bisnis (merger) alih-alih murni ekspansi organik.
Analis KB Valbury Sekuritas, Steven Gunawan, melaporkan bahwa pendapatan MORA pada semester I-2026 melonjak 52,4% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 2,8 triliun. Laba bersih perseroan turut melesat 82,8% menjadi Rp 312,4 miliar, sementara EBITDA tumbuh 57,3% menjadi Rp 1,4 triliun.
Tren positif ini berlanjut pada kuartal II-2026, di mana pendapatan MORA melonjak 89,6% menjadi Rp 1,8 triliun. EBITDA juga tercatat melesat 81,2%, EBIT naik tajam 57,7%, dan laba bersih meroket 42,5%.
Merger ini secara fundamental mengubah skala operasional MORA. Perusahaan kini mengelola jaringan serat optik sepanjang lebih dari 183.000 kilometer, 13,6 juta homepass fiber to the home (FTTH), 472.000 homepass fixed wireless access (FWA), serta melayani 2,9 juta pelanggan FTTH.
“Fase berikutnya akan bergeser dari integrasi menuju monetisasi. Proses integrasi baru mencapai 34% hingga semester I-2026, sehingga pertumbuhan pelanggan, utilisasi jaringan, dan realisasi sinergi menjadi indikator penting untuk menguji keberlanjutan laba MORA,” ungkap Steven dalam risetnya, dikutip pada Sabtu (3/10/2026).
Manajemen Ekamas Mora Republik menargetkan penambahan 5 juta homepass dan 1,5 juta pelanggan pada tahun 2026. Ekspansi ambisius ini akan didukung oleh fasilitas kredit investasi baru senilai Rp 4 triliun yang telah diperoleh pada Agustus 2026.
Valuasi Saham MORA Di Atas Rata-rata Industri
Meskipun kinerja keuangan menunjukkan tren positif, valuasi saham MORA menjadi sorotan. Per 30 September 2026, saham MORA diperdagangkan pada rasio price to earnings (P/E) trailing twelve months (TTM) sebesar 182,8 kali dan TTM EV/EBITDA 70,7 kali. Angka ini jauh melampaui rata-rata industri yang masing-masing berada di angka 48,8 kali dan 22,5 kali.
Premi valuasi ini dinilai sulit dibenarkan jika dibandingkan dengan tingkat profitabilitas MORA saat ini. Margin EBITDA perseroan tercatat sebesar 50,3%, masih di bawah rata-rata industri yang mencapai 53,6%.
Dari sisi likuiditas, rata-rata transaksi harian MORA dalam tiga bulan terakhir hanya sebesar Rp 3,3 miliar. Rasio kepemilikan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai 95,65%, menunjukkan free float yang terbatas.
Sebagai informasi, MORA yang dikendalikan Grup Sinar Mas memiliki kapitalisasi pasar saham sebesar Rp 213 triliun per Jumat (2/10/2026). Dengan nilai tersebut, Ekamas Mora Republik menduduki peringkat ke-10 emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia.